PPU Siaga Kekeringan! Desa & Kelurahan Diperintah Mitigasi Sumber Air Jelang Kemarau Ekstrem
Penajam, nusaetamnews.com : Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Penajam Paser Utara (PPU) resmi mengeluarkan instruksi kepada seluruh desa dan kelurahan untuk segera memetakan sumber air dan embung. Langkah ini merupakan respons darurat menyusul prediksi BMKG bahwa musim kemarau tahun 2026 akan jauh lebih kering dan panjang.
Kondisi ini menjadi alarm merah bagi wilayah PPU, mengingat sebagian besar sektor pertanian masih bergantung sepenuhnya pada sistem pengairan tadah hujan.
“Kemarau kali ini berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kekeringan ekstrem, hingga gagal panen massal,” tegas Kepala BPBD PPU, Nurlaila, Selasa (28/4).
Fokus Utama: Amankan Perut Rakyat
BPBD memberikan perhatian khusus pada sektor tanaman pangan. Tanpa mitigasi sumber air yang jelas, lahan pertanian warga terancam kering kerontang.
Beberapa poin instruksi strategis yang diberikan antara lain:
- Inventarisasi Embung: Desa dan kelurahan wajib mendata ulang kapasitas penampung air yang masih berfungsi.
- Akses Air Darurat: Memetakan titik sumber air yang bisa diakses cepat, baik untuk irigasi lahan maupun pemadaman api jika karhutla pecah.
- Mitigasi Gagal Panen: Melindungi hasil panen petani dari risiko puso akibat penurunan curah hujan yang mulai terasa.
Kolaborasi Lintas Sektor
Menghadapi ancaman kemarau panjang, BPBD tidak bergerak sendiri. Koordinasi intensif dilakukan bersama Dinas Pertanian serta Dinas Ketahanan Pangan PPU guna menyusun skenario penyelamatan stok pangan daerah.
“Saat ini curah hujan sudah mulai menurun. Jika tidak diantisipasi dari sekarang, hasil panen tidak akan optimal dan ketahanan pangan kita bakal terganggu,” tambah Nurlaila.
BMKG memprediksi fenomena kemarau tahun ini akan berdampak signifikan pada sektor perkebunan dan pertanian. Dengan pemetaan sumber air yang akurat, pemerintah berharap dampak buruk terhadap ekonomi masyarakat dapat ditekan seminimal mungkin. (ant/one)