Kutim Gaspol Target Bebas TB 2030, Bupati: Lapor Aktif Jadi Kunci!
Kutai Timur, nusaetamnews.com : Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) pasang target tinggi: eliminasi total penyakit tuberkulosis (TB) pada tahun 2030. Tidak main-main, Pemkab kini mulai menggerakkan seluruh lini hingga level kecamatan untuk memutus rantai penularan penyakit menular tersebut.
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor adalah harga mati. Pemkab secara resmi menggandeng Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) untuk memperkuat basis data dan penanganan di lapangan.
“Untuk mendukung program eliminasi TB, kami menggandeng PPTI mulai dari tingkat kabupaten hingga menyentuh 18 kecamatan,” ujar Ardiansyah di Sangatta, Rabu (29/4).
Fokus pada 1.000 Kasus, Kader PPTI Jadi Ujung Tombak
Berdasarkan data terbaru, saat ini tercatat sekitar 1.000 penderita TB yang tersebar di seluruh wilayah Kutai Timur. Kehadiran Pengurus Anak Cabang (PAC) PPTI di 18 kecamatan diharapkan menjadi solusi agar penanganan tidak lagi “meraba-raba”.
Bupati menekankan bahwa tugas kader bukan sekadar mencatat di atas kertas, melainkan menjadi detektif kesehatan yang proaktif.
- Deteksi Dini: Menemukan kasus baru di tengah masyarakat secara cepat.
- Reporting Aktif: Melaporkan data secara real-time untuk menentukan langkah medis.
- Pendampingan: Memastikan pasien mengonsumsi obat hingga tuntas agar tidak terjadi komplikasi atau kematian.
Lindungi Kelompok Rentan & Stop Merokok
Misi besar eliminasi ini bukan tanpa alasan. Ardiansyah ingin memastikan kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, dan warga dengan imun lemah tetap terlindungi dari risiko infeksi.
Selain pengobatan, Bupati juga menyelipkan pesan gaya hidup sehat. Ia mengajak warga Kutim untuk mulai aware terhadap kebersihan lingkungan dan berhenti merokok.
“Kita harus yakin TB bisa sembuh. Tapi itu hanya terjadi kalau ada kesadaran bersama untuk lapor, berobat sampai tuntas, dan jaga lingkungan tetap bersih,” tambahnya.
Perluas Jangkauan hingga Pelosok
Senada dengan Bupati, Ketua PPTI Kabupaten Kutim, Siti Robiah Ardiansyah, menilai pembentukan pengurus di tingkat kecamatan adalah langkah strategis. Dengan adanya PAC di 18 kecamatan, jangkauan edukasi dan pendampingan pengobatan dipastikan akan lebih maksimal merata hingga ke pelosok desa.
“Targetnya jelas: penemuan kasus lebih banyak di awal agar pengobatan bisa lebih maksimal di akhir,” pungkas Siti. (ant/one)