Subscribe

Man City Kudeta Takhta, “Penyakit Lama” Arsenal Kambuh di Tikungan Akhir?

3 minutes read

AROMA  kegagalan musim lalu kembali menghantui Emirates Stadium. Manchester City resmi mengambil alih kemudi perburuan gelar Liga Inggris setelah menang tipis 1-0 atas Burnley, Kamis (23/4) dini hari. Meski sama-sama mengantongi 70 poin dengan Arsenal, skuad asuhan Pep Guardiola unggul dalam urusan produktivitas gol.

City kini berada di posisi terdepan dengan koleksi 66 gol, unggul tiga angka dari Arsenal yang tertahan di angka 63. Padahal, secara selisih gol, kedua tim punya angka identik, yakni $+37$.

Déjà Vu Kegagalan Januari-April

Publik kini mulai mempertanyakan mentalitas tim asuhan Mikel Arteta yang memimpin klasemen sejak 4 Oktober namun justru goyah saat memasuki crunch time. Sinyal penurunan performa sebenarnya sudah tercium sejak awal tahun:

  • Januari Kelabu: Imbang lawan Nottingham Forest dan takluk di kandang dari Manchester United.
  • Februari Pahit: Sempat unggul 2-0 atas tim papan bawah Wolves, Arsenal justru mengakhiri laga dengan skor 2-2.
  • April Horor: Kekalahan 1-2 dari Bournemouth dan tumbang langsung di tangan City saat bertandang ke Etihad.

Kekalahan di final Piala Liga melawan City juga dianggap menjadi titik balik psikologis yang merusak momentum The Gunners di kompetisi domestik maupun perempat final Piala FA.

Perang Ideologi: “Set Piece FC” vs Dinamika City

Kritik tajam mulai menyerang taktik Arteta yang dinilai terlalu pragmatis dan defensif dibandingkan mentornya, Pep Guardiola. Fans lawan bahkan menjuluki Arsenal sebagai “Set Piece FC”.

Statistik mencatat 23 gol Arsenal (lebih dari sepertiga total gol mereka) lahir dari situasi bola mati. Sebaliknya, City lebih mengandalkan permainan terbuka (open play) dengan hanya mengemas 11 gol dari bola mati, menempatkan mereka di peringkat ke-17 liga untuk urusan tersebut.

“Arteta membawa timnya ke ambang batas dengan formula pragmatis. Jika gagal juara, mereka akan menjadi runner-up yang paling banyak dikritik karena gaya main yang lebih mirip Jose Mourinho ketimbang Guardiola,” ujar legenda Liverpool, Jamie Carragher.

Masalah Lini Depan & Mentalitas “Gugup”

Sektor serangan menjadi pembeda nyata. Saat City memiliki Erling Haaland (23 gol) dan Antoine Semenyo (15 gol), rekrutan anyar Arsenal, Viktor Gyokeres, baru menyumbang 12 gol. Kontribusi Bukayo Saka pun tertahan di angka 6 gol.

Faktor non-teknis juga ikut bicara. Gelandang Bournemouth, Tyler Adams, menyebut Emirates Stadium kini dipenuhi rasa gugup. “Suasana stadion menjadi sunyi saat tim tamu menekan. Ada tekanan besar yang terasa setiap kali pemain Arsenal melakukan kesalahan kecil,” ungkapnya.

Data Historis: Dominasi Tanpa Trofi?

Meski Arsene Wenger optimis jadwal sisa Arsenal lebih ringan (Newcastle, Fulham, West Ham, Burnley, Crystal Palace), data Opta menyajikan fakta pahit bagi pendukung Meriam London.

Statistik Sejak Des 2019 Arsenal (Arteta) Man City (Guardiola)
Hari di Puncak Klasemen 539 Hari 453 Hari
Gelar Liga Inggris 0 4
Prestasi Spesial Treble Winners (2023)

Kini, sisa musim 2026 menjadi pembuktian: mampukah Arteta menghapus label “nyaris juara,” atau justru City yang kembali melakukan back-to-back gelar lewat efisiensi mematikan mereka? (ant/one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *