Lampaui Keterbatasan, Program “BERBISIK” Pertamina Sukses Cetak Omzet Ratusan Juta di Balongan
Balikpapan, nusaetamnews.com : Pertamina Patra Niaga membuktikan bahwa inklusivitas bisa berjalan beriringan dengan profitabilitas dan kelestarian lingkungan. Melalui program Berdaya Berkolaborasi Inklusif Inovasi dan Karya (BERBISiK) di sekitar Kilang Balongan, Indramayu, Pertamina sukses memberdayakan kelompok disabilitas hingga mampu mencatatkan omzet ratusan juta rupiah per tahun.
Keberhasilan ini diharapkan menjadi blueprint yang akan segera diadaptasi di wilayah operasi lain, termasuk Kilang Balikpapan.
“Meski namanya BERBISiK, program ini membawa pesan yang lantang tentang kesetaraan, kemandirian ekonomi, dan inovasi lingkungan,” ujar Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, Selasa (14/4).
Dari Kedai Kopi Hingga Pengolahan Sampah
Program ini menyasar persoalan klasik yang dihadapi penyandang tunarungu (tuli), yakni akses pendidikan dan lapangan kerja. Tak hanya melatih hard skill, BERBISiK membekali peserta dengan kepercayaan diri dan kemampuan komunikasi melalui bahasa isyarat.
Hasil nyata dari inisiatif ini meliputi:
- Kedai Kopi Teman Istimewa: Ruang inklusi pertama di Indramayu yang dikelola sepenuhnya oleh kelompok tunarungu dengan omzet mencapai Rp220 juta per tahun.
- Bank Sampah Wiralodra: Mengintegrasikan pengelolaan sampah di Desa Balongan hingga ke Lapas Kelas II-B Indramayu, yang kini menghasilkan omzet Rp270 juta per tahun dari olahan plastik.
Dampak Lingkungan: Pangkas 223 Ton Emisi Karbon
Selain urusan ekonomi, BERBISiK menjadi mesin hijau bagi Kilang Balongan. Program ini berhasil mengolah 1,8 ton sampah organik dan 240 liter minyak jelantah per tahun. Dampaknya sangat signifikan terhadap bumi: pengurangan emisi karbon sebesar 223.228,8 kg CO2 ekuivalen per tahun.
Berkat inovasi sosial ini, Kilang Balongan sukses mempertahankan Proper Emas kedelapan mereka pada tahun 2025.
Inklusivitas yang Meluas
Hingga saat ini, program tersebut telah menyentuh 155 penyandang disabilitas, warga lansia, hingga 55 warga binaan lapas. Secara total, lebih dari 10 ribu orang di Indramayu merasakan manfaat tidak langsung dari ekosistem ini.
“Kami ingin masyarakat di sekitar kilang tumbuh bersama dan memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Praktik baik di Balongan ini adalah bukti nyata bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk berdaya secara sosial dan ekonomi,” pungkas Roberth.(ant/one)