El Nino Bukan Hanya Ancam Karhutla, tapi Kekeringan dan Longsor
SAMARINDA – El Nino di Kalimantan Timur tak boleh hanya dibaca sebagai ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Perubahan pola hujan dan meningkatnya suhu juga dapat memicu rangkaian bencana lain, mulai dari kekeringan, banjir, longsor hingga abrasi.
Akademisi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Mulawarman (Unmul) Riezdqhy Amalina Farahiyah Al Husna mengatakan karakter El Nino di Kaltim memiliki perbedaan dengan sejumlah wilayah lain di Indonesia.
Kaltim masih memiliki curah hujan yang relatif tinggi. Namun, ketika El Nino berlangsung, intensitas hujan cenderung menurun sehingga kondisi permukaan menjadi lebih panas dan kering.
“Curah hujan kita masih cukup tinggi dibandingkan wilayah lainnya, tetapi intensitasnya akan lebih berkurang dibandingkan biasanya,” ungkap Amalina, Rabu (12/8/2026).
Minimnya tutupan awan juga membuat radiasi matahari yang mencapai permukaan bumi meningkat. Dampaknya, suhu naik dan kelembapan lingkungan menurun.
Kondisi tersebut menjadi persoalan serius bagi Kaltim yang memiliki kawasan hutan dan lahan gambut cukup luas. Lahan yang semakin kering membuat potensi kebakaran meningkat.
Namun, dampak karhutla tidak berhenti pada kawasan yang terbakar. Hutan dan gambut memiliki fungsi penting sebagai penyimpan karbon. Ketika terbakar, karbon dalam jumlah besar dapat dilepaskan ke atmosfer.
“Ketika hutan atau lahan gambut terbakar, baik disengaja maupun tidak, tentunya akan melepaskan karbon yang masif ke udara,” katanya.
Pelepasan karbon tersebut berkontribusi terhadap peningkatan emisi gas rumah kaca dan memperburuk persoalan perubahan iklim. Dengan kata lain, kebakaran tidak hanya menjadi dampak dari kondisi lingkungan yang kering, tetapi juga dapat memperparah perubahan iklim yang memicu risiko bencana berikutnya.
Amalina mengingatkan pemerintah agar tidak menjadikan karhutla sebagai satu-satunya fokus mitigasi saat menghadapi El Nino.
Perubahan kondisi cuaca dapat meningkatkan kerentanan terhadap kekeringan. Di sisi lain, ketika hujan kembali turun dengan intensitas tinggi setelah periode kering, sejumlah wilayah juga tetap berpotensi menghadapi banjir dan longsor.
Abrasi turut menjadi risiko yang perlu diperhitungkan, terutama pada kawasan pesisir yang memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap perubahan kondisi lingkungan.
Karena itu, mitigasi bencana dinilai harus berbasis karakteristik wilayah, bukan sekadar respons setelah bencana terjadi.
“Perubahan iklim perlu diantisipasi melalui riset dan penguatan data,” tegasnya.
Data tersebut dibutuhkan untuk memetakan wilayah yang paling rentan sekaligus menentukan masyarakat yang membutuhkan perlindungan dan intervensi lebih cepat.
Pemerintah daerah juga didorong memperkuat perlindungan kawasan hutan dan lahan gambut. Selain menjaga ekosistem, langkah itu penting untuk mengurangi risiko ketika Kaltim memasuki periode panas dan kering.
El Nino, menurut Amalina, seharusnya menjadi alarm untuk memperkuat kesiapsiagaan. Bukan hanya memadamkan api ketika karhutla terjadi, tetapi membaca seluruh rantai risiko bencana yang muncul akibat perubahan iklim.
Dengan pendekatan tersebut, Kaltim diharapkan tidak sekadar bereaksi ketika bencana datang, melainkan mampu mengantisipasinya sejak kondisi lingkungan mulai menunjukkan tanda-tanda kerentanan.