Rudy Mas’ud dan Mini Bus Harapan untuk 72 Desa Tanpa Listrik
Samarinda – Di dalam sebuah perjalanan singkat dari Bandara APT Pranoto menuju Pendopo Lamin Etam, ada percakapan sederhana yang diam-diam menyimpan harapan besar bagi rakyat Kalimantan Timur.
Di dalam minibus itu, duduk berdampingan Utusan Khusus Presiden Bidang Perubahan Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo, Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud dan Wakil Gubernur Seno Aji.
Tak ada pidato resmi. Tak ada sorotan kamera. Namun di perjalanan itulah, perjuangan seorang gubernur kembali terlihat.
Dengan nada tenang namun penuh harap, Rudy Mas’ud bercerita tentang masih adanya 72 desa di Kalimantan Timur yang belum menikmati listrik. Di tengah provinsi yang kaya sumber daya alam, masih ada masyarakat yang hidup dalam gelap ketika malam tiba.
“Pak Hashim, tolong bantu kami,” ucap Rudy Mas’ud, seperti ditirukan kembali oleh Dirut PLN Darmawan Prasodjo saat memberikan sambutan dalam Groundbreaking Ceremony PLTA Batoq Kelo dan Jalan Akses Kaltara di Pendopo Lamin Etam, Senin 25 Mei 2026.
Kalimat itu sederhana. Tetapi bagi Darmawan, ucapan tersebut membuka pemahaman baru tentang sosok Rudy Mas’ud.
“Tadi dalam perjalanan dari airport ke sini, saya menjadi lebih tahu tentang Gubernur Rudy Mas’ud,” ucap Darmawan.
Menurutnya, seorang pemimpin biasanya berbicara tentang proyek besar, angka investasi atau pencapaian politik. Namun yang disampaikan Rudy Mas’ud justru tentang desa-desa yang belum dialiri listrik dan masyarakat yang masih menunggu terang hadir di rumah mereka.
“Nah, di sini saya baru paham bahwa Pak Rudy Mas’ud ini ternyata sangat mencintai rakyat Kalimantan Timur,” lanjutnya.
Bagi Darmawan, perhatian Rudy Mas’ud bukan sekadar membangun infrastruktur, tetapi bagaimana pembangunan itu benar-benar menyentuh kehidupan masyarakat. Listrik bukan hanya soal energi, melainkan tentang anak-anak yang bisa belajar pada malam hari, tentang ekonomi desa yang bisa bergerak, dan tentang harapan yang tumbuh perlahan di pelosok Kalimantan Timur.
Karena itu, proyek PLTA Batoq Kelo dinilai bukan sekadar pembangunan pembangkit listrik tenaga air. Proyek ini diyakini akan membuka lapangan pekerjaan, menggerakkan ekonomi kawasan dan menghadirkan energi bersih yang lebih murah bagi masa depan Kalimantan Timur.
Bahkan di tengah acara besar itu, Rudy Mas’ud masih meminta agar lebih banyak proyek pembangunan dapat hadir di Kalimantan Timur demi membuka kesempatan kerja baru bagi rakyatnya.
“Saya yakin beliau hanya memikirkan rakyatnya agar lebih sejahtera, mengentaskan kemiskinan dan memberikan kemakmuran,” puji Darmawan.
Dukungan pun langsung datang dari Hashim Djojohadikusumo. Mendengar permintaan itu, ia memastikan akan ikut memperjuangkan kebutuhan listrik bagi desa-desa yang belum teraliri energi.
“Pak Gubernur, nanti saya akan follow up dengan Pak Dirut PLN agar 72 desa bisa dipenuhi listriknya. Nanti kita juga akan lobi ke Pak Menteri ESDM,” jawab Hashim.
Suasana di Pendopo Lamin Etam siang itu pun terasa hangat. Di tengah seremoni peletakan batu pertama PLTA Batoq Kelo yang dihadiri Chairman Handa Group sekaligus owner PT Tujuan Mulia Makmur, Zi Fenggao, terselip cerita kecil tentang seorang gubernur yang memilih menggunakan setiap detik perjalanannya untuk memperjuangkan rakyat.
Sebab bagi Rudy Mas’ud, pembangunan bukan hanya tentang beton, turbin, atau angka investasi. Pembangunan adalah tentang menghadirkan cahaya bagi mereka yang masih menunggu terang di ujung kampung.