Rudy Mas’ud Bicara Paradoks Kalimantan Timur, Tikus Mati di Lumbung Padi
SAMARINDA – Kalimantan Timur menyimpan kekayaan alam yang luar biasa, mulai dari batu bara, minyak dan gas, hingga perkebunan sawit. Namun, Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud mengingatkan, melimpahnya sumber daya itu belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat.
Dalam Pencanangan Sensus Ekonomi 2026 di Gedung Odah Etam, Kamis (25/6/2026), Rudy melontarkan perumpamaan yang langsung mencuri perhatian.
“Jangan sampai kita seperti tikus mati di lumbung padi,” ketusnya.
Menurut Rudy, sebagai daerah penyumbang sekitar 61 persen produksi batu bara nasional dan 30 persen produksi migas Indonesia, Kaltim seharusnya tidak lagi dihadapkan pada persoalan mendasar seperti antrean BBM, pemadaman listrik, maupun kelangkaan kebutuhan pokok.
“Kita daerah penghasil energi terbesar, tetapi masih menghadapi persoalan-persoalan seperti itu. Ini yang harus kita benahi bersama,” lanjut Rudy.
Ia juga mengungkapkan prospek besar sektor migas Kaltim. Produksi gas dari ENI saat ini mencapai sekitar 700 juta kaki kubik per hari dan diperkirakan meningkat menjadi 1,8 miliar kaki kubik per hari pada 2028 hingga 2030. Di sektor perkebunan, sekitar satu setengah juta hektare kebun sawit menghasilkan hampir lima juta ton crude palm oil (CPO) setiap tahun. Kaltim juga masih memiliki kawasan hutan seluas 8,2 juta hektare.
Di balik potensi besar tersebut, Rudy mengakui ekonomi Kaltim sedang menghadapi tantangan. Pertumbuhan ekonomi yang sempat mencapai 6,19 persen pada 2024 turun menjadi 4,53 persen pada 2025 dan kembali melambat menjadi sekitar 2,99 persen pada triwulan pertama 2026.
Menurutnya, perlambatan itu dipengaruhi tingginya ketergantungan terhadap sektor pertambangan. Ketika harga batu bara melemah dan sejumlah perusahaan terkendala persetujuan RKAB, dampaknya langsung terasa terhadap perekonomian daerah. Bahkan lebih dari 11 ribu pekerja dilaporkan terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK).
Karena itu, Rudy menilai Kaltim harus segera mempercepat transformasi ekonomi menuju sektor yang lebih berkelanjutan, seperti ekonomi hijau dan ekonomi biru, sekaligus memperkuat kualitas sumber daya manusia.
“Kekayaan alam tidak akan cukup jika tidak diimbangi SDM yang unggul,” tegasnya.
Rudy juga menyoroti masih adanya daerah-daerah yang terisolasi, terutama di Kutai Barat. Pemerintah Provinsi Kaltim, kata dia, terus berupaya membuka akses jalan dan memperkuat konektivitas agar pertumbuhan ekonomi bisa dirasakan lebih merata.
Rudy menegaskan bahwa pembangunan harus berangkat dari data yang akurat. Karena itu, ia mendukung penuh pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 dan bahkan mengusulkan agar sensus dilakukan lebih sering, menyesuaikan perkembangan ekonomi yang bergerak semakin cepat.
“Bagi saya, satu data yang akurat hari ini bisa menentukan jutaan keputusan di masa depan. Karena itu, setiap kebijakan harus berbicara berdasarkan data,” pungkasnya.