Subscribe

Respons Geopolitik Global, Pemerintah Amankan 150 Juta Barel Minyak Rusia Sambil Genjot PLTA Batoq Kelo

2 minutes read

Samarinda, nusaetamnews.com : Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kian memanas akibat konflik melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat, mulai memicu alarm kewaspadaan energi di dalam negeri. Merespons situasi tersebut, Pemerintah Indonesia bergerak taktis dengan mendobrak dua jalur sekaligus: mengamankan pasokan minyak darurat dari Rusia dan mempercepat transisi energi hijau di daerah.

Hal ini ditegaskan oleh Utusan Khusus Presiden untuk Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, saat berada di Samarinda, Kalimantan Timur, Senin (25/5).

Menurut Hashim, konflik geopolitik saat ini berpotensi memicu penutupan Selat Hormuz—jalur nadi distribusi minyak dunia. Jika hal itu terjadi, Indonesia akan menghadapi ancaman serius berupa kelangkaan pasokan bahan bakar minyak (BBM) mentah beserta produk turunannya.

Prabowo Amankan Komitmen Vladimir Putin

Guna mengantisipasi dampak terburuk dari krisis distribusi tersebut, Presiden Prabowo Subianto bergerak cepat melakukan diplomasi strategis dengan kekuatan global. Hasilnya, Indonesia berhasil mengamankan komitmen pasokan energi dari Rusia.

“Presiden Vladimir Putin menyetujui pengiriman 150 juta barel minyak untuk Indonesia pada tahun ini. Kesepakatan strategis tersebut sangat penting guna menjamin keamanan pasokan energi di dalam negeri,” ungkap Hashim.

Langkah mitigasi ini diambil untuk memastikan stabilitas harga BBM nasional tetap terjaga dengan baik di pasar domestik. Pemerintah juga memberikan garansi bahwa stabilitas harga ini akan dicapai tanpa harus mengorbankan atau menghapus subsidi energi bagi masyarakat lapisan bawah.

Transisi Total: RI Ogah Bergantung pada Asing

Meski pasokan jangka pendek relatif aman berkat sokongan Rusia, Hashim mengingatkan bahwa Indonesia tidak boleh terlena. Ancaman perluasan perang di Timur Tengah atau penutupan Selat Hormuz secara mendadak bisa berulang kapan saja di masa depan.

Satu-satunya jalan keluar jangka panjang agar Indonesia memiliki daya tahan total adalah dengan mengejar kemandirian energi mutlak lewat proyek Energi Baru Terbarukan (EBT).

“Pemanfaatan sumber daya alam sendiri menjadi solusi utama dalam memenuhi tingginya kebutuhan energi rakyat Indonesia,” tegasnya.

PLTA Batoq Kelo Jadi Proyek Percontohan Nasional

Salah satu implementasi nyata dari ambisi kemandirian energi tersebut adalah dengan dimulainya proyek raksasa Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batoq Kelo berkapasitas 300 Megawatt (MW) di Mahakam Ulu, Kaltim.

Proyek berbasis hidro ini dinilai momentumnya sangat pas dengan konjungtur politik global hari ini. Selain menjadi benteng pertahanan energi dari guncangan eksternal, langkah ini merupakan bagian dari janji politik Presiden Prabowo Subianto di panggung internasional terkait isu lingkungan.

“Kami targetkan emisi nol bersih (Net Zero Emission) terealisasi pada tahun 2060 atau bahkan bisa lebih cepat dari itu, sesuai komitmen tegas yang telah disampaikan Presiden pada Sidang Umum PBB,” pungkas Hashim.(ant/one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *