Subscribe

PLTA Batoq Kelo, Jawaban Indonesia untuk Energi Masa Depan

3 minutes read

SAMARINDA — Ketika dunia masih sibuk berdebat soal perubahan iklim, Indonesia memilih bergerak dengan caranya sendiri. Tidak sekadar menandatangani komitmen di forum internasional, tetapi langsung membangun sumber energi masa depan yang nyata, terjangkau, dapat diandalkan dan ramah lingkungan.

Di tengah kegagalan berbagai kesepakatan global seperti Kyoto Protocol dan Paris Agreement menahan laju pemanasan bumi, Indonesia menegaskan tidak akan bergantung pada tekanan atau agenda negara lain. Indonesia berdiri pada posisi sendiri.

Utusan Khusus Presiden Bidang Perubahan Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo menegaskan, transisi energi Indonesia dilakukan bukan karena tekanan global, melainkan demi kepentingan generasi masa depan dan keamanan energi nasional.

Sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, Indonesia mulai mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil, khususnya batu bara, yang cadangannya suatu saat akan habis.

Karena itu, energi baru terbarukan menjadi pilihan strategis. Salah satu langkah nyatanya adalah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batoq Kelo di Long Bagun, Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Kalimantan Timur.

PLTA berkapasitas 300 megawatt itu bukan proyek kecil. Nilai investasinya mencapai USD 700 juta atau sekitar Rp13 triliun.

Direktur Utama PT PLN Darmawan Prasojo menyebut proyek tersebut sebagai bukti nyata arah baru energi Indonesia.

Menurut Darmawan, Presiden Prabowo dan Hashim Djojohadikusumo memiliki pandangan yang sangat elegan tentang masa depan energi nasional.

“Pandangan Pak Presiden dan Pak Hashim bukan karena Kyoto Protocol dan Paris Agreement, tetapi kepedulian agar generasi masa depan lebih baik dari masa sekarang,” kata Darmawan Prasojo di Samarinda, Selasa.

Bagi PLN, proyek ini bahkan sempat terasa sulit dipercaya. Saat proses penawaran harga pada 2025 lalu, Darmawan mengaku berulang kali mempertanyakan angka yang diajukan PT Tujuan Mulia Makmur (TMM), perusahaan yang akan membangun PLTA Batoq Kelo.

“Harganya sangat kompetitif dengan harga batu bara. Betul ini bisa jalan? Yakin Pak,” ujar Darmawan menirukan dialognya dengan tim PLN.

Keraguan itu perlahan hilang setelah melihat langsung keseriusan pembangunan proyek tersebut.
Menurut Darmawan, PLTA Batoq Kelo akan menghasilkan energi yang afordabel (terjangkau), realiabel (dapat diandalkan) dan sustainable (berkelanjutan) sekaligus menjadi tulang punggung sistem energi masa depan Indonesia.

Ia menilai proyek itu bukan sekadar konsep di atas kertas atau pidato di panggung konferensi internasional.

“Pak Hashim bukan hanya konsep, tapi 300 megawatt sudah diwujudkan dalam bentuk nyata,” pujinya.

Darmawan sendiri sebelumnya, mendampingi Hashim Djojohadikusumo menyuarakan komitmen Indonesia dalam forum iklim global COP di Azerbaijan. Namun bagi pemerintah, komitmen lingkungan tidak cukup hanya berhenti pada diplomasi internasional. Yang lebih penting adalah aksi nyata di lapangan.

PLTA Batoq Kelo menjadi simbol bahwa Indonesia mulai membangun kemandirian energi dari sumber daya sendiri. Energi air dinilai jauh lebih berkelanjutan dibanding ketergantungan jangka panjang terhadap batu bara.

Selain menghasilkan listrik hijau, proyek tersebut juga diyakini akan menggerakkan ekonomi kawasan perbatasan Mahakam Ulu.

Manajemen PT TMM memastikan pembangunan PLTA akan menyerap tenaga kerja, mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dan tetap memperhatikan aspek keamanan lingkungan.

Listrik yang dihasilkan nantinya akan dijual ke PT PLN sebelum didistribusikan kepada masyarakat.
Di tengah ancaman krisis energi global dan suhu bumi yang terus meningkat, pembangunan PLTA Batoq Kelo menjadi pesan kuat bahwa Indonesia tidak ingin hanya menjadi penonton dalam transisi energi dunia.
Indonesia memilih bergerak. Dari pedalaman Mahakam Ulu, arah masa depan energi nasional mulai dibangun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *