Subscribe

Menolak Menjadikan Sungai Karang Mumus Sebagai Tempat Sampah Terpanjang

2 minutes read

SUNGAI KARANG MUMUS (SKM) bukan sekadar aliran air yang membelah Kota Samarinda. Ia adalah urat nadi, saksi sejarah, dan cermin dari peradaban masyarakatnya. Namun sayangnya, jika kita berdiri di pinggirannya hari ini, cermin itu menampilkan refleksi yang buram.Kebiasaan membuang semua jenis sampah ke sungai—mulai dari plastik sekali pakai, limbah rumah tangga, hingga kasur bekas—telah menjadi “penyakit menahun” yang seolah dimaklumi. SKM dipaksa beralih fungsi dari sumber kehidupan menjadi tempat pembuangan akhir (TPA) sepanjang belasan kilometer.Mengapa “Budaya” Ini Harus Dihentikan Sekarang?Membiarkan perilaku ini terus berlanjut dengan dalih “sudah biasa” adalah bentuk pembiaran bencana. Ada tiga dampak fatal yang sedang kita pupuk:Bom Waktu Banjir: Sampah yang menumpuk di dasar sungai memicu pendangkalan hebat. Ketika debit air meningkat, sungai tidak lagi mampu menampung air, dan hasilnya adalah banjir tahunan yang merendam pemukiman serta melumpuhkan ekonomi warga.Krisis Kesehatan dan Lingkungan: Air yang tercemar mikroplastik dan bakteri berbahaya bukan hanya merusak ekosistem sungai, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat yang masih bergantung pada aliran air ini.Warisan Buruk untuk Generasi Depan: Menormalisasi buang sampah ke sungai adalah kegagalan edukasi. Kita sedang mengajarkan anak-cucu kita bahwa merusak alam adalah hal yang wajar.Mengubah Paradigma: Sungai adalah Beranda Rumah KitaUpaya pemerintah melakukan normalisasi, pengerukan, dan penertiban bantaran sungai akan menjadi sia-sia jika tidak dibarengi dengan perubahan perilaku masyarakat. Mengatasi masalah ini tidak bisa hanya mengandalkan petugas kebersihan.Sungai bukanlah halaman belakang tempat kita bisa menyembunyikan kotoran. Sungai adalah beranda depan yang menentukan kehormatan dan wajah kota kita.Mari kita ubah pola pikir bersama:Kelola dari Rumah: Mulailah memilah sampah organik dan anorganik dari dapur sendiri, lalu manfaatkan sistem penjemputan sampah resmi.Saling Menegur: Jangan segan untuk menegur—secara santun namun tegas—siapa saja yang masih tertangkap tangan melempar kantong sampah ke riak air SKM.Dukung Komunitas Peduli Sungai: Berikan apresiasi dan kontribusi nyata bagi gerakan-gerakan lokal yang selama ini konsisten merawat dan memungut sampah di SKM.Panggilan Mengambil AksiMelalui tulisan ini, Redaksi mengajak seluruh elemen warga Samarinda, tanpa terkecuali, untuk menyadari bahwa Sungai Karang Mumus sedang menjerit meminta pertolongan. Keindahan dan fungsinya tidak akan kembali lewat keajaiban semalam, melainkan lewat konsistensi kita untuk berhenti menjadikannya tempat sampah.Mari kembalikan martabat Sungai Karang Mumus. Karena sungai yang bersih adalah bukti nyata dari masyarakat yang beradab. (setia wirawan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *