Harga Rumah Baru di Balikpapan Makin Melejit, Penjualan Anjlok Setengahnya!
Balikpapan, nusaetamnews.com : Impian milenial dan Gen Z untuk punya rumah sendiri di Balikpapan tampaknya makin menantang. Tren penurunan penjualan rumah baru di Kota Minyak yang sudah terasa sejak 2025 ternyata makin ambles di awal tahun 2026 ini.
“Dalam catatan kami, hanya 72 unit rumah baru yang terjual pada triwulan I 2026. Jumlah itu turun lebih dari separuh dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 162 unit,” ungkap Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan, Robi Ariadi, Minggu (31/5).
Penurunan ini terjadi merata di semua tipe rumah. Ironisnya, rumah tipe kecil yang biasanya jadi incaran utama pasangan muda justru mencatat penurunan yang paling dalam.
Intip Price Tag Properti di Balikpapan
Biang kerok lesunya pasar properti ini gak lain adalah harga rumah yang makin ugal-ugalan. Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) alias indeks harga rumah baru meroket ke angka 107,67 (naik 1,44 persen secara tahunan).
Biar gak penasaran, berikut estimasi harga rumah baru di pasar Balikpapan saat ini:
- Tipe Kecil (Tipe 30–60): Kisaran Rp250 juta hingga Rp420 juta.
- Tipe Menengah (Tipe 90–125): Kisaran Rp580 juta hingga Rp1,1 miliar.
- Tipe Besar (Kawasan Premium): Menembus Rp2 miliar hingga Rp5 miliar.
Kenapa harganya bisa naik? Pengembang terpaksa putar otak menyesuaikan harga karena biaya bahan bangunan dan upah pekerja ikutan naik. Kondisi ini dipicu oleh efek domino kenaikan harga BBM serta gangguan pasokan global akibat ketegangan perang Amerika–Iran.
Selain karena faktor harga yang bikin calon pembeli wait and see, BI mencatat penurunan di awal tahun ini juga dipengaruhi oleh faktor musiman, di mana masyarakat lebih memfokuskan pengeluaran untuk kebutuhan Ramadan dan Idulfitri.
KPR Masih Jadi Andalan, tapi…
Untuk urusan bayar-membayar, Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih jadi opsi favorit buat kaum urban. Sebanyak 71 persen pembeli rumah baru mengandalkan KPR, meski angka ini menyusut dibanding awal tahun lalu yang sempat menyentuh 87,7 persen. Sisanya memilih jalur cash keras atau cash bertahap.
Di sisi lain, para developer juga curhat soal deretan tantangan berat saat ini:
- Meroketnya harga material bangunan.
- Kualitas kredit (BI Checking) calon pembeli yang sering macet.
- Masalah perizinan dan keterbatasan lahan.
- Tren kenaikan suku bunga KPR.
Properti Komersial: Ruko Kalem, Perhotelan Mulai Rising
Berbanding terbalik dengan rumah tinggal, sektor properti komersial (ruko, hotel, kantor) justru masih mengalami koreksi harga, walau gak sedalam dulu. Indeks Harga Properti Komersial (IHPK) turun tipis 0,10 persen.
Saat ini, ruko 2 lantai di Balikpapan dibanderol Rp2–4 miliar. Sedangkan ruko 3 lantai di prime location seperti MT Haryono atau Grand City harganya bisa bikin geleng-geleng kepala, yakni berkisar antara Rp5–15 miliar!
Kabar baiknya, segmen hotel justru mulai bergairah kembali (rebounding). Berkah ini didapat berkat masifnya mobilitas pekerja, proyek Kilang Pertamina, pembangunan IKN Nusantara Tahap II, serta menjamurnya event-event dinas maupun MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition).
BI Tetap Optimistis
Meski pasar sedang dinamis, Bank Indonesia menilai prospek jangka panjang properti di Balikpapan tetap menjanjikan, didorong oleh proyek hilirisasi industri dan efek penyangga IKN. BI pun berjanji akan memperkuat kebijakan makroprudensial demi melonggarkan pembiayaan.
“Kami terus memperkuat dukungan pembiayaan agar sektor properti tetap tumbuh sehat dan berkelanjutan,” pungkas Robi Ariadi. (ant/one)