Subscribe

Filosofi Tangga Demokrasi, Gerbang Menuju Istana Wapres di IKN yang Megah dan Ramah Lingkungan

2 minutes read

Nusantara, nusaetamnews.com : Sebanyak 210 anak tangga beton membelah bukit hijau yang menjadi singgasana bagi Istana Wakil Presiden di Ibu Kota Nusantara (IKN). Dikenal dengan nama Tangga Demokrasi, jalur ikonik ini menanjak dinamis dari ketinggian 40 meter di atas permukaan laut (mdpl) hingga menuju puncak bukit di elevasi 80 mdpl.

Meski cukup menguras tenaga dan membuat sebagian pengunjung menguji kebugaran fisiknya, arsitek Daliana Suryawinata menyisipkan filosofi mendalam di balik desain terjal ini. Desain rumah dinas Wapres ini merujuk pada konsep rumah lamin atau lou khas suku Dayak Kenyah, Bahau, dan Benuaq di Kalimantan Timur, serta rumah betang milik suku Ngaju di Kalimantan Tengah.

Lamin tradisional berdiri kokoh di atas tiang kayu ulin dan diakses menggunakan tangga kayu yang bisa ditarik saat ada ancaman. Konsep proteksi dan adaptasi budaya tersebut diterjemahkan secara modern melalui penempatan bangunan utama di puncak bukit. Pengunjung diajak merasakan transisi dari ruang bawah menuju ruang sakral di atas, layaknya bertamu ke rumah panjang Kalimantan masa silam.

Bagi pengunjung yang lelah, pengelola menyediakan eskalator yang tersembunyi di balik lanskap hijau. Namun, rasa lelah mendaki tangga akan terbayar lunas begitu tiba di anjungan puncak yang menyajikan pemandangan futuristik IKN, mulai dari TPST, Rumah Tapak Jabatan Menteri, hingga rusun ASN.

Staf Direktorat Sarana Prasarana OIKN, Cora Samuella, memastikan manajemen kunjungan telah ditata rapi. Pengunjung wajib mematuhi tata tertib, seperti berpakaian rapi dan sopan (berlengan, celana/rok panjang di bawah lutut, serta bersepatu). Pengunjung dilarang membawa senjata tajam, makanan, minuman, rokok, hewan peliharaan, serta drone tanpa izin khusus.

Pengalaman mendaki Tangga Demokrasi ini mengantarkan pengunjung pada inti arsitektur istana bernuansa “Huma Betang Umai” (rumah panjang pengayom seperti sosok ibu). Kemegahan bangunan ini turut dibalut teknologi ramah lingkungan, seperti atap berpanel surya, sistem hybrid cooling untuk sirkulasi udara alami, serta orientasi bangunan presisi barat-timur demi meminimalkan paparan panas matahari. Perpaduan topografi, teknologi sirkular, dan nilai tradisi ini menjadikan Istana Wapres sebagai simbol arsitektur Indonesia modern yang tetap berakar kuat pada tradisi lokal. (ant/one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *