Subscribe

Emoh Sawit, Petani di Kutim Sukses Sulap Hutan Lindung Jadi Sentra Kopi Liberika Cuan!

2 minutes read

Samarinda, nusaetamnews.com :  Langkah antimainstream diambil oleh Kelompok Tani Hutan (KTH) di Desa Suka Rahmat, Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Alih-alih tergiur menanam sawit, mereka justru merintis pengelolaan area sekitar hutan lindung menjadi kebun kopi produktif jenis Liberika. Hasilnya? Kopi ini sukses jadi andalan ekonomi baru sekaligus produk unggulan daerah.

Ketua KTH Agrowisata Goa Taman Buah Mandiri, Ruslan, mengungkapkan alasan di balik pilihan cerdas ini. Melalui metode agroforestri (wawasan lingkungan), mereka ingin membuktikan kalau cari cuan bisa banget beriringan dengan menjaga alam.

“Kami memilih menanam kopi dibandingkan sawit agar pelestarian kebun beriringan dengan upaya menjaga ketahanan lingkungan,” ujar Ruslan saat dihubungi, Kamis (2/7).

Langkah keren ini tidak lepas dari dukungan UPTD Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Santan Dinas Kehutanan Kaltim. Sejak 2023, kelompok tani ini sudah mengantongi izin legal pengelolaan perhutanan sosial dengan durasi kontrak hingga 35 tahun.

Satu Lahan Dua Panenan: Kopi Plus Madu Kelulut

Memanfaatkan lahan seluas 25 hektare, kreativitas petani di sini enggak ada matinya. Selain memanen biji kopi, mereka juga memanfaatkan nektar dari bunga-bunga pohon kopi sebagai pakan alami untuk lebah kelulut.

Jadi, sembari menunggu kopi panen, mereka juga bisa menghasilkan madu kelulut berkualitas tinggi yang kaya khasiat untuk suplemen kesehatan harian anggota kelompok.

Untuk produk kopinya sendiri, saat ini sudah dikemas rapi dan mulai menginvasi pasar lokal. “Kopi bubuk kami saat ini telah dipasarkan secara komersial kepada masyarakat dengan harga sekitar Rp30.000 per kemasan,” tutur Ruslan.

Dirintis Sejak 2007, Kini Punya 14.000 Pohon

Perjalanan menyulap hutan lindung ini sebenarnya bukan proses semalam. Budi daya kopi ini sudah dirintis oleh warga sejak tahun 2007 silam. Berkat konsistensi mereka, kawasan agrowisata tersebut kini sudah rimbun oleh sekitar 14.000 pokok tanaman kopi siap berproduksi.

Keberhasilan ini pun viral di lingkungan sekitar dan bikin banyak warga desa lain datang berkunjung untuk berguru dan meniru konsep budi daya ini.

Rasa Bintang Lima, Cita Rasa Nikmat!

Soal kualitas, Kopi Liberika asal Suka Rahmat ini enggak kaleng-kaleng. Slamet Prayogo, seorang praktisi kopi, memberikan testimoni langsung setelah mencicipi hasil panen kebun ini. Menurutnya, biji kopi hijau (green bean) yang dihasilkan berasal dari ceri kopi kualitas premium.

“Setelah melalui proses pengolahan yang tepat, kopi bubuk ini terbukti memiliki cita rasa yang nikmat sekali,” puji Slamet.

Kini, lewat kolaborasi apik antara masyarakat dan pemerintah daerah, Kopi Liberika Suka Rahmat siap digas agar bisa bersaing ketat, tak hanya di pasar domestik, tapi juga menembus pasar internasional. Local pride banget! (ant/one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *