Dorong Tambak Ramah Lingkungan, Kemenhut Siapkan Insentif Bagi Petambak di Kaltim
Samarinda, nusaetamnews.com : Kementerian Kehutanan terus menggenjot pembinaan tambak ramah lingkungan berbasis sistem silvofishery di Kalimantan Timur melalui Program Mangroves for Coastal Resilience. Langkah ini diambil untuk menjaga kelestarian ekosistem mangrove sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga pesisir.
Manager M4CR Provincial Project Implementation Unit Kaltim, Asman Aziz, mengajak para petambak di kawasan hutan produksi untuk segera mengurus legalitas pengelolaan lahan melalui skema perhutanan sosial.
Sebagai bentuk apresiasi, Kemenhut menyiapkan insentif sebesar Rp1 juta per hektar bagi pembudidaya yang menerapkan konsep tambak ramah lingkungan ini. Insentif tersebut diperuntukkan bagi tambak produktif yang masih aktif dikelola dan disalurkan dalam bentuk barang seperti benur atau bibit ikan.
Asman meluruskan kekhawatiran masyarakat dengan menegaskan bahwa pemerintah tidak memiliki rencana untuk mengambil alih lahan tambak. Pengurusan legalitas justru memberikan kepastian hukum dan akses pengelolaan jangka panjang hingga 30 tahun bagi para petambak.
Melalui keterlibatan Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi Delta Mahakam dan Dinas Kehutanan Kaltim, keberadaan petambak kini teregistrasi secara resmi sehingga payung hukum pengelolaan kawasan hutan produksi menjadi jelas.
Kawasan Delta Mahakam di Kabupaten Kutai Kartanegara yang menjadi ekosistem mangrove terluas di Kaltim diposisikan sebagai fokus utama perbaikan. Berdasarkan pemetaan strategi pemulihan, terdapat sekitar 58.116 hektar ekosistem mangrove yang masuk target rehabilitasi, termasuk area yang sempat beralih fungsi menjadi tambak maupun perkebunan sawit.
Meski proses pemulihan kawasan pesisir membutuhkan koordinasi dan anggaran yang intensif, Kemenhut berkomitmen menghadirkan pendekatan pendampingan yang matang serta berkelanjutan bagi kelompok masyarakat setempat.
Dampak positif dari integrasi lingkungan dan ekonomi ini sudah mulai dirasakan warga. Salah satunya oleh para petambak di Muara Badak yang telah menanam mangrove sejak 2021, di mana kini mereka menikmati peningkatan hasil panen tambak sekaligus ceruk ekonomi baru dari sektor ekowisata mangrove. (ant/one)