Subscribe

Dari Emas Hitam ke Emas Cokelat: Kutim Sukses Amankan Kontrak Rutin Kakao Premium ke Bandung

3 minutes read

Sangatta, nusaetamnew.com :Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) resmi memulai babak baru diversifikasi ekonomi untuk melepas ketergantungan kronis pada sektor batu bara dan sawit. Langkah ini ditandai dengan keberhasilan hilirisasi biji kakao fermentasi kualitas premium asal Kecamatan Karangan yang sukses menembus pasar industri manufaktur di Pulau Jawa.

Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, resmi melepas pengiriman perdana sebanyak 12 ton biji kakao fermentasi menuju salah satu raksasa pengolahan pangan di Bandung, Jawa Barat, PT Rasantara Cipta Pangan.

“Selama ini Kutim lebih dikenal sebagai daerah penghasil batu bara dan CPO. Keberhasilan diversifikasi ekonomi berupa fermentasi kakao ini adalah lompatan besar,” ujar Ardiansyah di halaman Kantor Bupati Kutim, Sangatta.

Dongkrak Nilai Jual Hingga 40 Persen

Strategi menggeser pola penjualan dari biji kering mentah menjadi biji fermentasi terbukti mendongkrak pendapatan para petani lokal secara drastis.

  • Harga Premium: Kakao fermentasi Karangan sukses dikunci dengan harga Rp38.000 – Rp42.000 per kilogram.
  • Lonjakan Margin: Harga ini tercatat 35–40 persen lebih tinggi dibandingkan dengan biji kering biasa tanpa proses fermentasi.
  • Proyeksi Semester II 2026: Setelah pengiriman perdana 12 ton pada Rabu (17/6/2026) lalu, Kutim siap memasok 25 hingga 30 ton per bulan secara rutin ke Bandung.

Proses fermentasi terkontrol selama beberapa hari memicu reaksi kimia alami yang menghilangkan rasa pahit menyengat, sekaligus mengeluarkan aroma orisinal cokelat yang dicari oleh industri makanan global. Karakteristik rasa inilah yang membuat kakao Karangan lolos uji mutu ketat pihak korporasi.

Sinergi Lintas Sektor & Remajakan Sektor Agraris

Camat Karangan, Muhammad Reza Pahlevi (Levi), membeberkan bahwa shifting paradigma petani dari cara lama ke metode fermentasi membutuhkan pendampingan teknis intensif selama dua tahun terakhir. Langkah hulu-hilir ini juga disokong penuh oleh Dinas Perkebunan Kutim untuk menjamin stabilitas pasokan dan konsistensi mutu.

Dukungan kuat juga datang dari tingkat provinsi dan legislatif. Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa Kaltim, Puguh Harjanto, mengapresiasi Kutim sebagai role model daerah yang berhasil membangun ekonomi tangguh dari potensi lokal. Sementara itu, Anggota DPRD Kutim, Akbar Tanjung, menjamin keberlanjutan regulasi dan pos anggaran untuk perkebunan rakyat ini agar tidak mandek di tengah jalan.

Di sisi lain, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kutim, Marhadyn, menilai digitalisasi dan modernisasi kakao ini ampuh mengubah pandangan generasi muda yang selama ini enggan bertani dan memilih merantau ke sektor tambang.

Langkah Lanjutan: Incar Produk Olahan Akhir

Pemkab Kutim menegaskan bahwa tambang memiliki batas waktu (finite resource), sedangkan sektor perkebunan jika dikelola secara berkelanjutan bisa menjadi investasi jangka panjang lintas generasi.

Ke depan, pemda berencana memperluas jaringan pasar, membangun fasilitas pengolahan pascaproduksi yang lebih modern di tingkat desa, hingga mengeksekusi wacana produksi akhir (end-product) secara mandiri berupa bubuk cokelat, cokelat batangan, hingga camilan siap konsumsi demi mengamankan nilai tambah yang jauh lebih besar. (ant/one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *