Bukan Cuma Minyak Goreng, Kutim Bidik Hilirisasi Sawit Jadi Bensin & Biofuel
SANGATA, nusaetamnews.com : Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) resmi mengalihkan fokus dari sekadar penghasil bahan baku menjadi pusat industri hijau. Di bawah komando Bupati Ardiansyah Sulaiman, Kutim kini mendorong transformasi besar-besaran: menyulap kelapa sawit menjadi bensin dan biomassa untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Langkah strategis ini bukan tanpa alasan. Dengan luas kebun sawit mencapai 529.586 hektare dan produksi Tandan Buah Segar (TBS) menyentuh 7,76 juta ton, Kutim punya modal kuat untuk mendominasi sektor energi terbarukan.
Raja CPO Kalimantan Timur
Saat ini, Kutim memegang titel sebagai penghasil Crude Palm Oil (CPO) terbanyak di Kalimantan Timur dengan catatan produksi mencapai 4,6 juta ton pada tahun 2023. Namun, Bupati Ardiansyah menegaskan bahwa menjual bahan mentah sudah bukan lagi zamannya.
“Pemerintah daerah terus mendorong transformasi ekonomi. Dari daerah penghasil bahan baku menjadi pusat industri berbasis produk turunan,” tegas Ardiansyah di Sangatta, Selasa (21/04/2026).
KEK Maloy: Senjata Rahasia Hilirisasi
Untuk mendukung visi tersebut, Pemkab Kutim telah menyiapkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK). Kawasan ini dinilai punya value tinggi karena:
- Lokasi Strategis: Berada di jalur Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II yang merupakan lintasan perdagangan internasional.
- Efisiensi Logistik: Memangkas biaya pengiriman produk turunan langsung dari pelabuhan setempat.
- Daya Saing: Membuka peluang investasi bagi pabrik kilang minyak (refinery) hingga biodiesel.
Panggilan Terbuka untuk Investor
Ardiansyah menginstruksikan perusahaan perkebunan di Kutim untuk tidak lagi berorientasi pada produksi mentah. Ia mendorong pelaku usaha segera membangun pabrik pengolahan di KEK Maloy guna menciptakan lapangan kerja bagi warga lokal.
“Ini bukan hanya peluang bisnis, tapi kontribusi nyata bagi energi nasional. Kami membuka ruang seluas-luasnya bagi investor lokal maupun internasional untuk tumbuh bersama Kutim,” tambahnya.
Melalui hilirisasi ini, Kutim optimistis bisa menekan ketergantungan pada energi fosil sekaligus mendongkrak kesejahteraan masyarakat melalui ekosistem industri yang lebih berkelanjutan.(ant/one)