Subscribe

Rudy Mas’ud Pilih Menyetir Sendiri: Cara Sang Gubernur Mengukur Jalan Rusak dari Balik Kemudi

3 minutes read

Samarinda – Di tengah padatnya agenda pemerintahan, ada satu kebiasaan yang jarang diketahui publik tentang Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud. Saat melakukan kunjungan kerja ke berbagai daerah, terutama wilayah yang masih bergelut dengan persoalan infrastruktur, Rudy lebih sering memilih duduk di balik kemudi ketimbang di kursi belakang kendaraan dinas.
Pilihan itu bukan sekadar hobi mengemudi. Baginya, menyetir sendiri adalah cara paling jujur untuk mengetahui kondisi riil jalan yang setiap hari dilalui masyarakat.
Hampir seluruh jalur panjang pesisir Kaltim pernah dilaluinya dengan mengemudi sendiri. Mulai dari Anggana, Muara Badak, Marangkayu, Bontang, Bengalon, Kaliorang, Maloy, Kaubun, Sangkulirang, Talisayan hingga Tanjung Redeb di Kabupaten Berau.
Tak hanya kawasan pesisir, Rudy juga berkali-kali menempuh perjalanan darat menuju Kutai Barat dan Mahakam Ulu, wilayah yang selama bertahun-tahun identik dengan tantangan aksesibilitas.
Menariknya, saat mengemudi, ia tidak ditemani sopir maupun ajudan. Kendaraan yang dikendarainya hanya diisi sang istri, Hj Sarifah Suraidah. Sementara rombongan ajudan dan staf pribadi mengikuti dari belakang menggunakan kendaraan lain.
“Kalau saya disetirkan, saya mungkin lebih banyak tidur. Tapi kalau nyetir sendiri, saya bisa merasakan langsung kondisi jalan yang kami lewati,” ujar Rudy.
Pernyataan itu menjelaskan mengapa isu infrastruktur menjadi salah satu fokus utama pemerintahannya sejak dilantik pada 20 Februari 2025 bersama Wakil Gubernur Seno Aji.

Ketua DPD Partai Golkar Kaltim itu menegaskan pembangunan tidak boleh hanya terlihat dari laporan di atas meja. Jalan berlubang, badan jalan yang licin saat hujan, akses yang nyaris putus hingga desa-desa yang masih terisolasi harus dilihat dan dirasakan secara langsung.

Pendekatan itulah yang kemudian melahirkan sejumlah percepatan pembangunan infrastruktur di berbagai wilayah.

Salah satu yang menjadi perhatian serius adalah ruas Tering–Ujoh Bilang yang menghubungkan Kutai Barat dan Mahakam Ulu. Dari keseluruhan jalur, kini hanya tersisa sekitar 23 kilometer yang masih memerlukan penanganan. Meski berstatus jalan nonstatus yang membutuhkan kolaborasi pendanaan antara pemerintah pusat dan daerah, pembangunan terus didorong agar konektivitas ke wilayah perbatasan semakin terbuka.

Di Mahakam Ulu, perjuangan Rudy juga menghasilkan komitmen pembangunan jalan sepanjang 120 kilometer melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) PT Tujuan Mulia Makmur. Jalan tersebut akan menjadi akses strategis menuju kawasan pembangunan PLTA Batoq Kelo dan membuka konektivitas baru yang menghubungkan Kalimantan Timur dengan Kalimantan Utara hingga Kalimantan Barat.

Sementara di Kecamatan Bongan, Kutai Barat, Pemprov Kaltim telah menyiapkan anggaran sekitar Rp100 miliar untuk membuka akses menuju empat desa yang selama ini masih terisolasi. Empat desa itu adalah Deraya, Tanjung Soke, Lemper dan Gerunggung. Program itu kini menunggu penyelesaian proses hibah aset jalan dari pemerintah kabupaten.

Di sisi lain, keberhasilan menyelesaikan pembangunan Jembatan Nibung di Kabupaten Kutai Timur menjadi bukti konkret dari komitmen tersebut. Infrastruktur yang sempat mangkrak lebih dari satu dekade itu kini telah berfungsi dan menjadi jalur vital penghubung Kutai Timur dan Berau.

Kehadiran jembatan tersebut tidak hanya memangkas waktu perjalanan, tetapi juga mengurangi biaya transportasi masyarakat yang sebelumnya harus mengeluarkan sekitar Rp200 ribu untuk sekali penyeberangan kendaraan roda empat menggunakan feri.

Di tengah pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang terus berjalan, Rudy tampaknya ingin memastikan bahwa perhatian pemerintah tidak hanya tertuju pada kawasan ibu kota baru. Jalan-jalan di pelosok, desa terpencil, hingga kawasan perbatasan juga harus mendapatkan hak yang sama untuk berkembang.
Karena itu, setiap kali roda kendaraan yang dikemudikannya menghantam lubang atau melintasi jalan berlumpur di pedalaman Kaltim, perjalanan tersebut bukan sekadar kunjungan kerja. Dari balik kemudi, Rudy sedang mengukur sendiri sejauh mana pembangunan harus dikejar agar tidak ada wilayah yang tertinggal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *