Serangan Satwa Liar Marak, Dinkes Kaltim Siagakan Faskes dan Stok Serum Anti-Bisa
Samarinda, nusaetamnews.com : Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Timur memastikan seluruh fasilitas kesehatan, mulai dari puskesmas hingga rumah sakit umum daerah (RSUD), siap siaga menangani korban gigitan dan sengatan satwa liar. Kesiapan ini menjadi prioritas utama menyusul tingginya laporan insiden serangan hewan berbisa di sejumlah wilayah pinggiran Kaltim.
Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin, menegaskan bahwa seluruh faskes telah diinstruksikan untuk menyiagakan tenaga medis beserta logistik penawar bisa (antivenom). Berdasarkan data rekapitulasi sistem pelaporan Dinkes Kaltim, tercatat ada 111 kasus penyakit akibat gigitan hewan dan tumbuhan berbisa sepanjang tahun 2026.
Kasus gawat darurat tersebut didominasi oleh 55 insiden sengatan tawon serta 49 kejadian gigitan ular. Kabupaten Berau dan Kota Samarinda menjadi dua wilayah yang paling konsisten melaporkan temuan insiden medis akibat serangan makhluk berbisa ini.
Kecepatan penanganan di tingkat puskesmas—seperti yang dilakukan Puskesmas Tanjung Batu dan Tubaan di Berau—terbukti efektif mencegah fatalitas sebelum pasien dirujuk ke rumah sakit. Sementara itu, rumah sakit rujukan seperti RSUD Abdul Rivai di Berau juga sukses menyelamatkan pasien kritis akibat gigitan ular berbisa yang mengalami gejala nekrosis sistemik lewat pemberian serum anti-bisa ular.
Demi mitigasi jangka panjang, Pemprov Kaltim terus mengoptimalkan sistem pendataan terpadu guna memetakan peta kerawanan konflik satwa. Data ini dipakai untuk memastikan distribusi stok logistik obat penawar racun terbagi merata hingga ke daerah pelosok. Jaya juga mengimbau warga agar langsung berobat ke fasilitas medis terdekat dan menghindari penanganan tradisional jika terkena gigitan satwa liar. (ant/one)