Subscribe

Hidupkan Pasar Pagi Tanpa Matikan Pedagang, Disdag Siapkan Pola Baru

2 minutes read

Samarinda – Upaya menghidupkan kembali aktivitas perdagangan di Pasar Pagi Samarinda tak bisa hanya mengandalkan pasar murah. Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Samarinda justru akan membatasi frekuensi kegiatan tersebut agar tidak menekan pedagang yang setiap hari menggantungkan penghasilan dari pasar yang berlokasi tidak jauh dari Sungai Mahakam itu.

Kepala Disdag Kota Samarinda Nurrahmani mengatakan pasar murah direncanakan hanya digelar tiga hingga empat kali dalam setahun.

Menurutnya, pasar murah memang bisa menjadi daya tarik bagi masyarakat, tetapi jika terlalu sering digelar justru berpotensi membuat pedagang di dalam pasar kesulitan bersaing.

“Kalau pasar murah paling tiga sampai empat kali setahun. Kasihan kalau orang disuruh jual murah-murah terus,” kata Nurrahmani, Jumat (21/8/2026).

Disdag, kata dia, menyiapkan konsep lain untuk membuat Pasar Pagi kembali ramai. Salah satunya melalui kegiatan rutin yang dapat mendatangkan pengunjung, dengan catatan aktivitas tersebut tetap menguntungkan pedagang di dalam pasar.

Kegiatan itu bahkan diproyeksikan berlangsung sekitar sebulan sekali. Namun, lokasi dan konsepnya harus diatur agar tidak mengambil ruang dagang maupun menutup akses menuju kios pedagang.

“Kalau untuk jualan, kita minta pedagang di dalam. Kecuali mungkin kami masukkan misalnya pasar murah berkaitan dengan inflasi,” ujarnya.

Disdag juga tak ingin pasar murah justru menjadi pesaing langsung bagi pedagang Pasar Pagi. Karena itu, komoditas yang dijual harus disesuaikan dengan barang yang sudah tersedia di dalam pasar.

Jika pedagang sudah menjual beras SPHP, misalnya, pemerintah tidak akan membawa komoditas yang sama untuk dijual dengan harga lebih rendah.

“Kalau di dalam ada jual beras SPHP, kami tidak boleh. Dia ada jual minyak, kita tidak boleh,” jelasnya.

Dengan pola tersebut, barang yang ditawarkan dalam kegiatan pasar murah akan diarahkan pada komoditas yang belum tersedia atau belum banyak dijual pedagang Pasar Pagi.

Tujuannya sederhana: masyarakat tetap mendapat pilihan harga, sementara pedagang tidak kehilangan pasar akibat kehadiran program pemerintah sendiri.

Konsep kegiatan pun akan dibuat agar pengunjung tidak berhenti di area acara. Setelah datang, mereka diharapkan masuk ke dalam Pasar Pagi dan berbelanja di kios-kios pedagang.

“Jadi semua di luar, orang pasti ingin ketika naik ke situ ingin masuk, karena ada apa di dalam. Itu yang kita mau kondisikan,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *