Rusia Siap Pasok Minyak ke RI Meski Kena Sanksi EU, Dubes Tolchenov: “Kita Teman Strategis!”
Jakarta, nusaetamnews.com : Di tengah gempuran sanksi baru dari Uni Eropa (UE), Rusia tetap menunjukkan komitmennya sebagai mitra energi bagi Indonesia. Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergei Tolchenov, menegaskan bahwa Moskow siap menjamin kelancaran pasokan minyak dan gas ke tanah air sesuai kesepakatan yang telah dibuat.
Pernyataan ini muncul sebagai respons atas paket sanksi ke-14 Uni Eropa yang membidik sektor energi Rusia, termasuk aktivitas hulu hingga transportasi minyak.
“Kami siap pasok minyak dan gas untuk teman-teman kami, dan Indonesia adalah salah satu mitra strategis utama. Jadi, kami tetap on track dengan perjanjian yang ada,” tegas Dubes Tolchenov di Jakarta, Senin (4/5/2026).
Follow Up Kesepakatan Moskow
Tolchenov menyebutkan bahwa dasar kerja sama ini makin kuat setelah diskusi intensif antara Presiden RI Prabowo Subianto dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dengan pihak Moskow beberapa waktu lalu. Kini, kedua negara fokus pada teknis pelaksanaan di lapangan.
Terkait sanksi Uni Eropa yang makin ketat, Tolchenov tampak santai. Ia menyebut Rusia sudah terbiasa hidup dalam tekanan sanksi selama lebih dari satu dekade. Bahkan, ia melabeli sanksi tersebut sebagai tindakan ilegal.
“Hanya Dewan Keamanan PBB yang punya otoritas sah untuk menjatuhkan sanksi pada negara berdaulat. Rusia tetap dalam kondisi baik meski ada tekanan tersebut,” tambahnya.
Terminal Karimun Masuk Radar Sanksi?
Ketegangan ini sempat mencuat setelah Uni Eropa merilis daftar baru pada 23 April lalu. Selain pelabuhan di Murmansk dan Tuapse, Terminal Minyak Karimun di Indonesia ikut terseret dalam daftar karena dituding terkait dengan upaya penghindaran sanksi.
Namun, Pemerintah Indonesia tetap pada pendiriannya: Kepentingan Nasional adalah Prioritas Utama.
Juru bicara Kemlu RI, Vahd Nabyl A. Mulachela, menyatakan bahwa di tengah dinamika geopolitik yang unpredictable, Indonesia harus lincah bekerja sama dengan berbagai pihak—baik Amerika Serikat maupun Rusia—demi mengamankan ketahanan energi rakyat.
Target 150 Juta Barel hingga Akhir 2026
Senada dengan Kemlu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengonfirmasi bahwa minyak mentah dari Rusia akan segera masuk ke sistem energi nasional. Langkah berani ini adalah bagian dari realisasi komitmen impor total sebesar 150 juta barel dari Rusia yang akan dilakukan secara bertahap hingga pengujung 2026.
Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Dengan kebutuhan energi yang mendesak, Indonesia memilih jalur diplomasi ekonomi yang pragmatis guna memastikan pasokan BBM di dalam negeri tetap aman dan stabil di tengah krisis global.(ant/one)