Subscribe

Inflasi Kaltim Melandai di April 2026: Strategi 200 Kali Operasi Pasar Terbukti Ampuh!

2 minutes read

Samarinda, nusaetamnews.com :  Kalimantan Timur sukses menjinakkan laju inflasi pasca-Lebaran 2026. Bank Indonesia (BI) Kaltim mengungkapkan bahwa salah satu kunci keberhasilan ini adalah “serangan” operasi pasar yang dilakukan secara masif—lebih dari 200 kali—sejak memasuki Ramadhan hingga April lalu.

Kepala BI Kaltim, Jajang Hermawan, menjelaskan bahwa keberhasilan ini tak lepas dari sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang menerapkan strategi 4K.

“Pengendalian inflasi diperkuat lewat strategi keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, hingga komunikasi efektif,” ujar Jajang di Samarinda, Selasa (5/5/2026).

Gempuran Operasi Pasar & Stok Aman

Untuk menjaga daya beli warga tetap stabil, TPID Kaltim benar-benar “gaspol” dengan menggelar lebih dari 200 kegiatan Gerakan Pangan Murah. Langkah ini dinilai efektif meredam gejolak harga bahan pokok yang biasanya melonjak saat Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).

Tak hanya soal harga, TPID juga memperketat pemantauan stok komoditas strategis melalui koordinasi dengan BUMD pangan dan pelaku usaha. Distribusi antarwilayah pun ikut dikawal ketat guna memastikan tidak ada gangguan logistik yang bisa bikin harga pangan segar jomplang di pasaran.

Inflasi Melandai ke Angka 0,11 Persen

Efek dari strategi ini langsung terasa pada data terbaru. Inflasi Kaltim pada April 2026 tercatat sebesar 0,11 persen (mtm), turun drastis dibandingkan realisasi bulan sebelumnya yang sempat menyentuh angka 0,73 persen.

Meski begitu, Jajang mencatat masih ada beberapa sektor yang menyumbang inflasi, di antaranya:

  • Sektor Transportasi: Akibat penyesuaian tarif angkutan udara, harga BBM nonsubsidi dan avtur, serta biaya maintenance kendaraan pasca-mudik.
  • Sektor Perumahan & Energi: Dipengaruhi oleh kenaikan harga gas LPG 3 kg.

“Tekanan inflasi ini berhasil tertahan berkat deflasi pada komponen volatile foods (pangan bergejolak) sebesar minus 0,47 persen (mtm). Ini tandanya pasokan pangan sudah mulai normal dan permintaan warga sudah kembali wajar pasca-Lebaran,” tambah Jajang.

Program MANDAU Kaltim Jadi ‘Early Warning’

Dalam aspek komunikasi, BI dan Pemprov Kaltim terus memperkuat koordinasi rutin melalui Program MANDAU Kaltim. Program ini berfungsi sebagai sistem peringatan dini (early warning) untuk mendeteksi gejolak harga pangan sebelum menjadi masalah besar di masyarakat.

Dengan normalisasi aktivitas ekonomi ini, BI optimistis stabilitas harga di Bumi Etam akan terus terjaga, sekaligus memastikan transisi ekonomi pasca-HBKN berjalan mulus dan profesional. (ant/one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *