Subscribe

Gak Cuma Kartini, Kaltim Punya Aminah Syukur & Nyonya Lo Beng Long: “Ibu” Pendidikan di Tepian Mahakam

3 minutes read

Samarinda, nusaetamnews.com : Kalau dengar tanggal 21 April, pikiran kita pasti langsung otomatis ke R.A. Kartini dan kebaya. Tapi buat warga Samarinda, tanggal ini punya makna ganda yang jauh lebih “dekat”. Tepat 56 tahun lalu, 21 April 1970, jenazah Aminah Syukur dipindahkan ke TMP Kusuma Bangsa sebagai bentuk penghormatan tertinggi buat sang pahlawan pendidikan Bumi Etam.

Sejarah mencatat, emansipasi di Kalimantan Timur bukan cuma soal narasi, tapi aksi nyata yang dilakukan perempuan-perempuan tangguh sejak zaman kolonial.

Aminah Syukur: Pendiri “Oasis” Pendidikan Perempuan

Nama Aminah Syukur mungkin sering kita lihat di plang jalan, tapi jasanya jauh lebih besar dari sekadar nama alamat. Lahir di Palembang, Aminah justru menghabiskan energinya buat mencerdaskan anak-anak perempuan di Samarinda.

Pada 1928—saat pemuda se-Indonesia lagi sibuk Sumpah Pemuda—Aminah mendirikan Meisje School. Ini adalah sekolah khusus perempuan pribumi pertama di Samarinda.

  • Visi: Di masa itu, sekolah adalah barang mewah buat cewek. Aminah mendobrak itu.
  • Dedikasi: Gak cuma di sekolah, rumahnya pun terbuka buat murid-muridnya yang mau belajar tambahan sampai usianya senja.

Dari tangan dinginnya, lahir tokoh-tokoh penting Kaltim yang kelak jadi penggerak pembangunan daerah.

Nyonya Lo Beng Long: Sosok di Balik Kampus Unmul

Kalau Aminah main di level pendidikan dasar, maka di jenjang pendidikan tinggi ada nama Dorinawati Samalo alias Nyonya Lo Beng Long. Perempuan Tionghoa ini membuktikan kalau kepedulian pada pendidikan itu lintas etnis dan latar belakang.

Tahun 1960-an, saat tokoh Kaltim resah karena anak muda harus merantau ke Jawa buat kuliah, Dorinawati hadir sebagai solusi.

  • Hibahkan Tanah: Ia menghibahkan rumah panggung kayu di Jalan Flores buat jadi kampus pertama Universitas Mulawarman.
  • Pergerakan Mahasiswa: Rumah itu dulunya jadi pusat sekretariat Dewan Mahasiswa. Kini, lokasi itu abadi sebagai Fakultas Ilmu Budaya Unmul dan Balai Bahasa Kaltim.

Bukan Cuma Penonton di Era Revolusi

Sejarawan Muhammad Sarip menyebut kalau geliat perempuan Kaltim sudah “on fire” sejak 1930-an. Dokumentasi klasik menunjukkan para perempuan Samarinda sudah rajin ikut kursus baca-tulis dan aktif di organisasi seperti Persatuan Istri Islam Indonesia.

Bahkan saat perang kemerdekaan (1945-1949), mereka gak cuma duduk manis. Ada yang jadi kurir logistik, perancang strategi, sampai penopang moral gerilyawan di dalam hutan Kalimantan.

Self-Reflection buat Kita

Kisah Aminah Syukur dan Dorinawati adalah pengingat kalau semangat “Kartini” itu nyata di depan mata kita, di tiap sudut jalan Samarinda yang kita lalui. Mereka membuktikan kalau emansipasi itu bukan sekadar perayaan setahun sekali, tapi soal menghibahkan waktu, tenaga, bahkan tanah, demi masa depan generasi penerus.

Jadi, buat anak muda Kaltim, 21 April bukan cuma soal kebaya, tapi soal menghargai jalan yang sudah dirintis dua perempuan hebat ini di Tepian Mahakam.(ant/one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *