Dompet Digital Berjaya di Bumi Etam: Transaksi QRIS Kaltim Tembus Rp2,84 Triliun di Awal 2026
Samarinda, nusaetamnews.com : Pemandangan warga yang memindai kode batang (barcode) di lapak UMKM hingga pusat perbelanjaan kini menjadi wajah baru ekonomi Kalimantan Timur. Transformasi digital ini bukan sekadar tren, melainkan gaya hidup yang kian inklusif. Terbukti, pada Januari 2026, penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Kaltim mencatatkan rekor baru.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kaltim, Jajang Hermawan, mengungkapkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap efisiensi pembayaran digital terus meroket dari bulan ke bulan.
Lonjakan Pengguna dan Merchant
Hanya dalam satu bulan, jumlah pengguna QRIS di Kaltim bertambah hampir 9.000 orang. Tren positif ini diikuti oleh para pelaku usaha (merchant) yang kian sadar akan pentingnya menyediakan opsi pembayaran nontunai.
Tabel Pertumbuhan QRIS di Kalimantan Timur (2025–2026):
| Periode | Jumlah Pengguna | Jumlah Merchant |
| Oktober 2025 | 832,6 Ribu | 763,1 Ribu |
| November 2025 | 841,6 Ribu | 780,6 Ribu |
| Desember 2025 | 850,8 Ribu | 798,2 Ribu |
| Januari 2026 | 859,2 Ribu | 808,0 Ribu |
Performa Transaksi yang Memikat
Memasuki awal tahun 2026, performa QRIS semakin menunjukkan tajinya. Volume transaksi pada Januari tercatat sebanyak 36,5 juta kali dengan nilai nominal mencapai Rp2,84 triliun.
“Kenaikan ini mencerminkan tingginya kepercayaan masyarakat dan pelaku usaha terhadap efisiensi pembayaran digital,” ujar Jajang Hermawan di Samarinda, Rabu (4/3).
Peta Jalan Nontunai Kaltim
Meski QRIS tumbuh pesat, instrumen pembayaran lain tetap memberikan kontribusi besar. Secara akumulatif, transaksi nontunai di Kaltim sepanjang tahun 2025 mencapai angka fantastis, yakni Rp191,67 triliun.
Berikut adalah komposisi dominasi pembayaran nontunai di Kaltim:
- Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK): Rp168 Triliun (Posisi Utama).
- QRIS: Rp22,8 Triliun (Tumbuh Agresif).
- Uang Elektronik: Rp874 Miliar.
Buah Manis Kampanye GNNT
Capaian ini tidak datang tiba-tiba. Jajang menekankan bahwa masifnya adopsi digital ini adalah hasil dari konsistensi Gerakan Nasional Nontunai (GNNT) yang dicanangkan Bank Indonesia sejak 2014. Di Kaltim, kampanye ini menyasar berbagai lapisan, mulai dari pasar tradisional hingga sektor pendidikan dan pemerintahan.
“Bank Indonesia Kaltim terus aktif melakukan kampanye penggunaan QRIS agar ekosistem ekonomi digital kita semakin matang dan aman bagi semua pihak,” tutupnya. (ant/one)