Waspada El Nino 2026! BWS Kaltim Siaga Tempur Lawan Kemarau Panjang, Stok Air Mulai Diperketat
Samarinda, nusaetamnews.com : Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV Samarinda resmi memasang status siaga tinggi menghadapi ancaman kemarau panjang alias El Nino yang diprediksi menghantam Kalimantan Timur pada Juni hingga Agustus 2026.
Kondisi tahun ini diperkirakan lebih ekstrem dibanding kekeringan hebat pada 2023 lalu, sehingga langkah-langkah darurat mulai diberlakukan untuk menjaga ketahanan sumber daya air (SDA) di Bumi Etam.
Pangkas Debit Air & Optimalisasi Bendungan
Kepala Seksi Operasi dan Pemeliharaan BWS Kalimantan IV, Riz Anugerah, menegaskan bahwa pengelolaan infrastruktur air kini diperketat. BWS menyarankan PDAM untuk segera menurunkan volume pengambilan air hingga 75% guna menjaga elevasi bendungan agar tidak anjlok ke level kritis.
Prioritas utama saat ini adalah pengamanan air baku dan irigasi dari bendungan-bendungan besar, seperti:
- Bendungan Sepaku Semoi (IKN)
- Bendungan Teritip & Manggar (Balikpapan)
- Bendungan Lempake (Samarinda)
Senjata Lawan Kekeringan: 44 Sumur Bor & Alat Berat
BWS tidak main-main dalam menyiapkan “alutsista” menghadapi kemarau. Sebanyak 44 titik sumur bor dengan kedalaman hingga 100 meter telah disiagakan di wilayah Kutai Kartanegara hingga Balikpapan untuk mengakses lapisan air artesis.
Selain itu, bantuan logistik dan alat berat telah ditempatkan di titik strategis (Samarinda, Balikpapan, PPU, dan Kutim), meliputi:
- Ekskavator & Dump Truck
- Mobil Pompa kapasitas tinggi
- Pemanfaatan embung, situ, dan sumber air non-waduk lainnya.
Pola Tanam Digital & Perlindungan Hulu
Melalui Komisi Irigasi, BWS menginstruksikan para petani yang tergabung dalam Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) untuk disiplin mengatur pola tanam berdasarkan data digital akurat hasil integrasi dengan BMKG dan BPBD.
“Kami mengintegrasikan teknologi informasi untuk menyediakan data prediksi kekeringan yang akurat. Kolaborasi lintas sektor diperkuat agar penanganan bencana lebih cepat dan ketersediaan benih tahan kering terjamin,” jelas Riz di Samarinda, Senin (20/4/2026).
Riz juga memberi peringatan keras soal urgensi menjaga kawasan hulu. Ia menegaskan agar area tangkapan air tidak dialihfungsikan menjadi kawasan industri atau perumahan, karena hal tersebut menjadi kunci utama kesinambungan pasokan air ke bendungan di masa depan. (ant/one)