Tak Puas Stunting Turun, Samarinda Kejar Target 14 Persen pada 2030
SAMARINDA – Angka stunting di Samarinda terus ditekan. Setelah prevalensinya turun dari 24,7 persen pada 2020 menjadi 17,1 persen pada 2025, Pemkot Samarinda kini memasang target baru: 14 persen pada 2030.
Target tersebut menjadi tantangan berikutnya. Sebab, penurunan stunting tidak cukup hanya mengandalkan penanganan setelah anak mengalami gangguan pertumbuhan. Pencegahan harus dimulai sejak masa kehamilan hingga penguatan pola asuh dan pemenuhan gizi di tingkat keluarga.
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Samarinda, Deasy Evriyani, mengatakan tren penurunan dalam lima tahun terakhir menunjukkan intervensi yang dilakukan pemerintah mulai membuahkan hasil.
Namun, capaian 17,1 persen belum menjadi alasan untuk berhenti.
“Pemkot Samarinda menargetkan penurunan angka stunting dapat mencapai 14 persen pada 2030, dan terus ditekan hingga 5 persen pada 2045,” kata Deasy.
Salah satu strategi yang diperkuat yakni Program Orang Tua Asuh Cegah Stunting (OTA Genting). Program ini mempertemukan keluarga berisiko stunting dengan orang tua asuh untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi dan kebutuhan dasar keluarga sasaran.
Program tersebut bahkan mencatat realisasi di atas target. Dari sasaran awal 2.126 keluarga, jumlah penerima mencapai 2.776 sasaran yang tersebar di 10 kecamatan. Total bantuan yang disalurkan mencapai Rp352,6 juta.
Pemkot juga mengandalkan keterlibatan masyarakat melalui Gerakan Ketua RT Sepuluh Ribu Cegah Stunting (Geret Bunting). Gerakan ini menempatkan lingkungan terkecil, khususnya RT, sebagai salah satu ujung tombak pencegahan stunting.
Wakil Wali Kota Samarinda Saefuddin Zuhri sebelumnya mengingatkan, keberhasilan menurunkan prevalensi stunting harus menjadi pemicu untuk memperkuat pencegahan di tingkat keluarga dan lingkungan.
Kolaborasi pemerintah, tenaga kesehatan, Ketua RT hingga masyarakat dinilai menjadi kunci agar penurunan stunting tidak berhenti pada capaian 17,1 persen, tetapi terus bergerak menuju 14 persen pada 2030 dan 5 persen pada 2045.
Bagi Samarinda, target tersebut bukan sekadar angka. Tantangan terbesarnya adalah memastikan setiap keluarga memiliki kemampuan dan akses yang cukup untuk mencegah stunting sejak awal.