Sulap Eks-Tambang Jadi Hutan Tropis: OIKN dan Kemenhut Duet Pulihkan Tahura Bukit Soeharto
Nusantara, nusaetamnews.com : Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) bergerak cepat merealisasikan visi IKN sebagai kota hutan (forest city) dunia. Berkolaborasi dengan Kementerian Kehutanan (Kemenhut), OIKN tancap gas melakukan rehabilitasi besar-besaran di lahan bekas tambang, khususnya di kawasan Taman Hutan Rakyat (Tahura) Bukit Soeharto, Selasa (09/06/2026).
Langkah agresif ini diambil demi mengembalikan area bopeng bekas galian menjadi hutan produktif, zona penyangga air, sekaligus habitat alami satwa liar. Proyek ini menjadi bagian dari komitmen IKN untuk mendedikasikan 65 persen wilayahnya sebagai area hijau demi memulihkan ekosistem hutan hujan tropis Kalimantan.
“Saat ini kami masih menjalin kerja sama dengan Kementerian Kehutanan untuk melakukan rehabilitasi kawasan bekas tambang, khususnya di Tahura Bukit Soeharto,” ujar Kepala OIKN, Basuki Hadimuljono, di Nusantara.
5 Fase Action Plan Pemulihan Lahan Hijau IKN
Kerja sama taktis antara OIKN dan Kemenhut ini tidak main-main. Dokumen kerja sama mencakup aksi nyata dari hulu ke hilir untuk memulihkan tanah yang rusak:
1.Mapping & Rekayasa Lahan: Fase Awal.
Melakukan pemetaan area, menata ulang kontur tanah, dan mengukur kedalaman lubang bekas tambang secara presisi.
2.Netralisasi Tanah & Drainase:Fase Perbaikan Geologis.
Menimbun dan meratakan tanah bopeng, memperbaiki sistem drainase agar tidak ada genangan, serta memulihkan kesuburan tanah yang sempat tercemar zat kimia tambang.
3.Penanaman Fast-Growing Species:Fase Suksesi Awal.
Menanam pohon dengan pertumbuhan cepat (fast-growing species) seperti akasia dan sengon untuk menahan erosi, mencegah longsor, sekaligus menutup lahan terbuka.
4.Restorasi Flora Endemik:Fase Hutan Asli.
Menanam pohon asli Kalimantan seperti meranti, ulin, dan kapur secara bertahap. Bibit pohon berkualitas ini disokong langsung oleh balai pembenihan hutan di bawah Kemenhut.
5.Water Management & Anti-Polusi:Fase Proteksi Air.
Membangun saluran air, cekdam, dan kolam retensi di bekas galian untuk memotong jalur Air Asam Tambang (AAT) agar tidak merembes dan mencemari sungai di sekitar tahura.
Gandeng Warga Lokal Lewat Skema Pemberdayaan Ekonomi
Menariknya, proyek green movement ini tidak cuma fokus pada pohon, tapi juga pada manusianya. OIKN mengintegrasikan program ini dengan pemberdayaan warga lokal. Masyarakat sekitar tahura dilibatkan langsung sebagai tenaga pelaksana sekaligus tim pemelihara hutan.
Dampak Ekonomi bagi Warga: Selain pohon hutan, warga diajak menanam tanaman bernilai ekonomi tinggi seperti karet, aren, dan tanaman buah. Hasilnya nanti akan diproyeksikan penuh untuk mendongkrak kesejahteraan ekonomi lokal.
Guna memastikan proyek ini tidak kecolongan, OIKN dan Kemenhut sepakat melakukan monitoring ketat setiap 3 hingga 6 bulan sekali. Pengawasan di lapangan juga diperketat demi memastikan praktik penambangan liar (illegal mining) tidak kembali merusak kawasan paru-paru IKN tersebut.
“Selain untuk memulihkan alam dan mendukung ekonomi lokal, giat ini juga untuk mendukung Gerakan ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah), sekaligus untuk memperkuat komitmen IKN sebagai kota hutan berkelanjutan,” tutup Basuki. (ant/one)