Subscribe

Redefinisi Peran Ayah, Wawali Balikpapan: Stop Fatherless demi Indonesia Emas 2045!

3 minutes read

Balikpapan, nusaetamnews.com : Fenomena fatherless alias kondisi di mana anak kehilangan figur ayah secara psikologis dan emosional tengah menjadi sorotan serius. Wakil Wali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo, mewanti-wanti para orang tua bahwa isu ini bukan perkara sepele, karena taruhannya adalah kualitas SDM menyongsong Indonesia Emas 2045.

“Kita tidak boleh membiarkan anak-anak tumbuh dalam kondisi fatherless. Yaitu ketika ayah hadir secara fisik, tetapi absen secara psikologis maupun emosional dalam kehidupan anak,” tegas Bagus saat membacakan sambutan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji, di Halaman Balai Kota Balikpapan, Selasa (30/6).

Momen krusial ini disampaikan bertepatan dengan upacara Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33. Menurut Bagus, ketahanan keluarga adalah fondasi utama pembangunan nasional. Minimnya keterlibatan ayah serta pola asuh yang kurang berkualitas di rumah justru menjadi trigger utama maraknya social problems di kalangan remaja saat ini.

Alarm Keras Kerapuhan Keluarga

Bagus tidak menampik bahwa berbagai kenakalan remaja yang marak belakangan ini merupakan imbas dari rapuhnya fungsi kontrol di rumah.

“Fenomena seperti bullying, tawuran, geng motor, penyalahgunaan narkoba, hingga pergaulan bebas yang berujung kehamilan di luar nikah adalah alarm keras bahwa ada fungsi keluarga yang rapuh,” jelasnya.

Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya reposisi peran seorang ayah. Di era modern ini, ayah tidak bisa lagi sekadar menjadi breadwinner atau pencari nafkah, melainkan harus hadir sebagai pilar pembentuk kepribadian dan stabilitas emosi anak.

Maksimalkan Bonus Demografi Lewat Kualitas SDM

Saat ini, Indonesia sedang berada di fase krusial bonus demografi, di mana struktur populasi didominasi oleh usia produktif. Momentum emas ini harus dimanfaatkan lewat transformasi kualitas manusia sejak dini. Bagus menyebut, fokus pemerintah kini sudah bergeser: tidak lagi bertumpu pada kuantitas atau jumlah penduduk, melainkan genjot kualitas SDM.

“Transformasi kualitas SDM itu dimulai sejak bayi dalam kandungan hingga proses pengasuhan di lingkungan keluarga. Potensi bonus demografi ini harus kita ubah menjadi modal berkualitas yang mampu bersaing di tingkat global,” kata Bagus.

Untuk mencetak generasi unggul tersebut, Bagus membeberkan tiga pilar utama yang wajib diperkuat oleh setiap keluarga:

  • Kesehatan fisik dan kecukupan gizi.
  • Pendidikan karakter sejak dini.
  • Ketahanan mental serta spiritual.

Jadikan Rumah sebagai Safe Space

Menutup sambutannya, Bagus berharap momentum Harganas ke-33 ini menjadi titik balik bagi masyarakat dan pemerintah daerah untuk kembali menghidupkan nilai-nilai agama dan moral di dalam rumah. Rumah harus bertransformasi menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak.

“Keluarga harus menjadi pelabuhan emosional yang stabil, tempat anak merasa dihargai, didengarkan, dan didukung. Pemerintah pun akan terus berkomitmen menghadirkan kebijakan yang berpihak pada perlindungan sosial dan penguatan layanan dasar keluarga,” pungkas Bagus Susetyo.(ant/one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *