Pertamax Tembus Rp16.250, Pengamat Ekonomi Unmul Desak Kelas Menengah Segera Eksekusi Frugal Living
Samarinda, nusaetamnews.com : Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax (RON 92) dinilai harus menjadi alarm penting bagi kaum urban. Pengamat Ekonomi dari Universitas Mulawarman (Unmul), Khairil Anwar, menyebut momentum ini adalah waktu yang tepat bagi masyarakat kelas menengah untuk merombak gaya hidup agar tetap adaptif di tengah ketatnya situasi ekonomi.
“Masyarakat kelas menengah ke atas yang merupakan konsumen utama Pertamax sudah saatnya mengerem pengeluaran konsumtif yang bersifat sekadar gaya hidup (lifestyle),” tegas Khairil Anwar di Samarinda, Jumat (12/06/2026).
Khairil menilai pemerintah berada dalam posisi dilematis dan tidak memiliki banyak opsi kebijakan. Langkah menaikkan harga terpaksa diambil akibat terbatasnya ruang fiskal APBN, ditambah status Indonesia yang saat ini bukan lagi sebagai negara eksportir minyak (net importer).
Harga Meroket, Publik Dinilai Lebih Ready Hadapi Tekanan
Meskipun lompatan harga Pertamax terhitung sangat signifikan—yakni melejit dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter—Khairil mengamati bahwa masyarakat dan dunia usaha saat ini jauh lebih siap menghadapi tekanan (shock) ekonomi.
Menurutnya, ketangguhan mental ekonomi ini terbentuk karena publik telah terbiasa belajar dari rentetan krisis masa lalu, seperti krisis global 2008, dinamika ekonomi 2015, hingga hantaman pandemi beberapa tahun lalu.
“Konsumen kelas menengah mestinya sudah mengantisipasi kondisi ini sejak jauh-jauh hari. Salah satunya lewat peralihan ke kendaraan yang lebih irit (fuel-efficient) serta penerapan gaya hidup hemat alias frugal living,” jelas Khairil.
Efek Lebih Jinak Dibanding Kenaikan Solar
Khairil memberikan catatan optimistis bahwa dampak dari kenaikan Pertamax ini mayoritas hanya akan menyasar lini mobilitas pribadi. Efek dominonya dinilai lebih jinak dan tidak akan sekstrem jika pemerintah menaikkan harga Solar, yang berpotensi memicu inflasi gila-gilaan karena menyangkut urusan tarif logistik barang nasional.
Sebagai langkah mitigasi jangka pendek, ia mendesak pemerintah untuk segera menyalurkan bantalan sosial (bansos) secara tepat sasaran guna menjaga daya beli masyarakat kelas bawah agar tidak ikut terseret.
Di sisi lain, Khairil juga merekomendasikan pemerintah untuk menggandeng jaringan bengkel kompeten guna menggencarkan edukasi teknis kepada pengendara mengenai tips merawat kendaraan agar konsumsi BBM harian bisa ditekan seefisien mungkin. (ant/one)