Otorita IKN Bidik Wastra Lokal Jadi Identitas Ibu Kota Baru
Penajam, nusaetamnews.com : Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) menegaskan bahwa identitas ibu kota masa depan Indonesia tidak hanya dibangun lewat megahnya infrastruktur modern. Kain tradisional atau wastra khas Kalimantan Timur dibidik untuk menjadi bagian utama dari wajah dan identitas visual Nusantara.
Wastra lokal—termasuk batik dan tenun yang diproduksi oleh masyarakat di sekitar wilayah delineasi IKN—kini tengah digenjot agar memiliki daya saing tinggi dan mampu bersanding dengan produk wastra nasional lainnya yang sudah mapan.
“Wastra memiliki potensi besar untuk menjadi bagian dari wajah IKN,” ujar Direktur Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Otorita IKN, Muhsin Palinrungi, di Penajam Paser Utara, Sabtu (20/6/2026).
Sentuhan Modern dan Semangat Transformasi
Muhsin menjelaskan, pengembangan motif batik dan wastra di IKN tidak boleh hanya sekadar mengejar aspek estetika semata. Lebih dari itu, setiap helai kain harus mampu membawa narasi, cerita, serta karakter kuat dari wilayah ibu kota baru.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Sekretariat Kerja Bersama (SKB) Bank Indonesia (BI) IKN, Aura Pandu Wirawan, menekankan pentingnya adaptasi desain seiring semakin ramainya aktivitas di Nusantara.
“Identitas IKN perlu hadir melalui berbagai karya masyarakat, termasuk produk kreatif. Desainnya harus memiliki unsur modern, membawa semangat transformasi dan digitalisasi, sehingga menghasilkan karya yang sederhana, anggun, tetapi tetap memiliki karakter,” kata Aura Pandu.
Kolaborasi Strategis dan Pendampingan Perajin
Guna mewujudkan target tersebut, Otorita IKN bersama SKB BI IKN menggandeng Tepa Selira, pelaku usaha sekaligus pengembang batik kawakan, untuk memberikan pelatihan serta pendampingan intensif kepada para perajin lokal.
- Peserta: Sebanyak 50 peserta yang tergabung dalam 9 kelompok batik dan wastra di wilayah IKN terlibat dalam program ini.
- Fokus: Sebanyak 30 perajin di antaranya mendapatkan pendampingan khusus untuk pengembangan desain (design development) agar karya mereka lebih relevan dengan selera pasar modern dan global.
Program ini disambut positif oleh para pelaku kreatif di lapangan. Rusmayawati, salah satu perajin batik asal Kecamatan Samboja yang menjadi peserta, mengakui pelatihan ini membuka cakrawala baru bagi para perajin lokal.
“Kegiatan ini memberikan inspirasi baru dalam mengembangkan karya dan melihat industri batik dari sudut pandang yang jauh lebih luas,” pungkasnya. (ant/one)