Menjaga Tradisi ‘Sobat’ di Pulau Derawan: Berburu Tuna Sekaligus Memikat Hati Wisatawan Duniav
SIAPA yang tak kenal Pulau Derawan? Surga tropis di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur ini tak hanya tersohor karena bentangan pasir putih dan pesona bawah lautnya yang magis. Di balik keindahan alam yang memanjakan mata, tersimpan sepotong harmoni kehidupan pesisir yang masih terjaga rapi: Tradisi “Sobat”.
Bagi masyarakat Suku Bajau dan penduduk lokal Derawan, Sobat bukanlah sekadar rutinitas mencari nafkah. Ini adalah warisan leluhur berupa teknik menangkap ikan menggunakan pukat tradisional yang dilakukan secara komunal (gotong-royong).
Menariknya, di era modern ini, aktivitas memukat ikan tersebut berhasil bertransformasi. Bukan lagi sekadar pengisi pundi-pundi dapur keluarga, melainkan menjelma menjadi atraksi wisata budaya yang sangat magnetis bagi para pelancong.
Ketika Budaya dan Ekonomi Berjalan Beriringan
Wakil Bupati Berau, Gamalis, mengungkapkan kekagumannya terhadap konsistensi para nelayan dalam merawat kearifan lokal ini. Saat berada di Tanjung Redeb, ia menegaskan bahwa kekuatan pariwisata Derawan kini semakin kaya karena tidak hanya mengandalkan keindahan alam statis, melainkan menyuguhkan pengalaman langsung (live experience) bagi para pelancong.
“Aktivitas memukat ikan yang masih dilakukan secara tradisional ini tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga menjadi potensi wisata budaya dan wisata bahari yang menarik bagi wisatawan,” ujar Gamalis penuh optimisme.
Bagi wisatawan, pengalaman melihat langsung—atau bahkan ikut memegang jaring pukat di tengah laut yang jernih dengan latar belakang pasir putih—memberikan impresi liburan yang sangat autentik. Pengalaman culture-rich seperti ini tidak banyak dimiliki oleh destinasi wisata lain di Indonesia.
Berburu Akrab Bersama Ikan Tuna di Musim Spesial
Serunya lagi, atraksi wisata budaya ini tidak bisa dinikmati sepanjang waktu secara sembarangan. Alam punya kalendernya sendiri. Tradisi Sobat biasanya mulai menggeliat secara masif sejak Maret hingga Oktober setiap tahun.
Pemilihan bulan-bulan tersebut merujuk pada perubahan iklim dan arus laut yang menyebabkan kawanan ikan tuna bermigrasi mendekat ke perairan di sekitar Pulau Derawan.
Ketika musim itu tiba, permukaan laut yang jernih akan beriak oleh kepakan sirip ikan, menjadi penanda bagi para nelayan untuk membentangkan pukat bersama-sama. Kehidupan asli masyarakat pesisir inilah yang menjadi nilai jual mahal bagi industri pariwisata masa kini.
Rapor Meroket: Kunjungan Wisata Naik 32,5 Persen!
Perpaduan keindahan bawah laut dengan kehangatan budaya Suku Bajau terbukti ampuh mendongkrak angka pariwisata Berau. Sektor perikanan dan pariwisata terbukti bisa berjalan beriringan tanpa harus saling mengorbankan.
Berdasarkan data performa pariwisata terbaru:
- Total Kunjungan (2025): 45.274 wisatawan.
- Tren Pertumbuhan: Naik tajam 32,5 persen dibanding tahun 2024 yang mencatatkan 34.160 orang.
- Komposisi Turis: Di dominasi oleh Wisatawan Nusantara (Wisnus) sebanyak 41.890 orang, dan Wisatawan Mancanegara (Wisman) sebanyak 3.384 orang yang berasal dari Malaysia, Singapura, hingga beberapa negara di Eropa.
Para turis asing ini rela menempuh perjalanan ribuan kilometer demi merasakan atmosfer kehidupan pesisir yang masih murni dan sarat nilai historis.
Notes untuk Masa Depan: Jangan Lupa Jaga Laut!
Melihat potensi yang begitu masif, pemerintah daerah berkomitmen penuh untuk menjaga kelestariannya. Pekan lalu, Wakil Bupati Gamalis bahkan turun langsung mengenakan pakaian lapangan, ikut basah-basahan bersama nelayan memukat ikan tuna di kawasan Gusung Sanggalau, Pulau Derawan.
Dari momen kebersamaan di tengah laut itu, ia menyelipkan sebuah pesan krusial bagi keberlangsungan ekosistem. Gamalis mengingatkan dengan tegas agar modernisasi atau ambisi mengejar kuantitas tangkapan jangan sampai merusak terumbu karang dan habitat laut.
“Kita harus terus menjaga ekosistem laut saat menangkap ikan. Tujuannya jelas, agar hasil tangkapan nelayan tetap melimpah dan potensi wisata bahari kita tetap berkelanjutan,” pungkasnya.
Pada akhirnya, Tradisi Sobat di Pulau Derawan adalah bukti konkret bahwa menjaga warisan masa lalu adalah modal terbaik untuk membangun masa depan pariwisata yang berkelanjutan (sustainable tourism). (ant/one)