Subscribe

Menepis Sinar Berlian: Sisi Lain Syarifah Suraidah yang Jarang Tersorot Kamera

4 minutes read

BAGI SEBAGIAN masyarakat Kalimantan Timur, nama Syarifah Suraidah—istri dari Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud—mungkin kerap diidentikkan dengan gemerlap kehidupan sosialita. Narasi tentang gaya hidup mewah, pakaian bermerek, dan lingkaran sosial yang elite seolah terlanjur melekat kuat, menjadi bumbu yang renyah di media sosial.

Namun, jika kita bersedia menggeser sudut pandang sedikit lebih dalam, di balik tirai protokoler dan kilau lampu panggung politik, ada lembaran kisah yang jauh berbeda. Ada sisi humanis yang tenang, yang luput dari filter Instagram namun dirasakan nyata oleh mereka yang berada di akar rumput.

Tangan yang Bergerak Tanpa Kamera

Menjadi istri seorang pejabat publik berarti hidup dalam akuarium; setiap gerak-gerik diawasi. Syarifah menyadari betul stempel “hedon” yang sesekali dialamatkan kepadanya. Namun, alih-alih sibuk melakukan klarifikasi di media, ia kerap memilih menjawabnya dengan langkah-langkah senyap yang jauh dari publikasi.

Di berbagai sudut kota hingga pelosok desa di Kaltim, Syarifah sebenarnya memiliki jejak kepedulian yang konsisten. Lewat berbagai yayasan dan aksi sosial yang digerakkannya, ia kerap turun langsung menemui masyarakat yang membutuhkan.

Bukan dengan setelan formal yang kaku, beberapa warga menceritakan bagaimana Syarifah bisa begitu cair saat duduk di lantai kayu rumah panggung warga, mendengarkan keluh kesah para ibu tentang harga pangan, atau memeluk seorang nenek sebatang kara di pinggiran Samarinda. Bagi mereka, Syarifah bukan sekadar “Istri Gubernur”, melainkan seorang ibu yang mau mendengarkan.

Kebaikan Sunyi di Balik Koridor Kantor

Sisi humanis Syarifah tidak hanya meluap saat ia berada di tengah lapangan, tetapi juga dalam interaksi sehari-hari di lingkungan terdekatnya. Di balik dinding-dinding formalitas birokrasi, ada cerita-cerita hangat yang jarang beredar di media sosial.

Syarifah dikenal kerap memberikan perhatian—dan rezeki—secara sunyi kepada para pekerja kecil yang menjaga roda aktivitas di sekitarnya tetap berputar. Mulai dari petugas kebersihan (cleaning service), office boy (OB), hingga personel keamanan bawah.

“Beliau itu kalau memberi sering kali langsung diselipkan begitu saja, tanpa mau ada kamera atau ajudan yang sibuk memfoto. Kadang saat berpapasan di koridor atau selesai acara, beliau panggil pelan-pelan, tanya kabar keluarga, lalu memberi sekadar uang saku atau bantuan sembako. Bagi kami yang bekerja di belakang layar, perhatian kecil seperti itu sangat berarti,” ungkap salah seorang petugas kebersihan di lingkungan instansi terkait.

Aksi-aksi spontan tanpa skenario inilah yang kerap kali luput dari penilaian publik yang terlanjur terpaku pada apa yang tampak di permukaan.

Fokus pada Ibu dan Anak: Investasi Rasa Nyata

Sisi humanis Syarifah juga terlihat jelas pada komitmennya terhadap isu-isu perempuan dan anak. Ia menaruh perhatian besar pada isu stunting dan kesejahteraan keluarga di Kaltim. Bagi Syarifah, melihat anak-anak tumbuh sehat di tanah yang kaya akan sumber daya alam ini adalah sebuah keharusan.

Ia aktif mendorong program-program pemberdayaan ekonomi perempuan mandiri. Baginya, ketika seorang ibu berdaya secara ekonomi, maka gizi dan pendidikan anak-anak di dalam rumah tangga tersebut akan ikut terjamin.

Ibu dari Keluarga Besar: Jangkar di Tengah Pusaran

Di luar urusan publik, Syarifah adalah ibu dari keluarga besar. Membesarkan anak-anak di tengah pusaran dunia politik yang bising dan penuh tekanan tentu bukan perkara mudah. Di sinilah peran humanisnya sebagai seorang ibu diuji sekaligus terbukti.

Di balik rumah tangganya, ia digambarkan sebagai sosok jangkar yang religius dan disiplin. Ia memastikan bahwa anak-anaknya tetap tumbuh dengan nilai-nilai kerendahan hati, menghormati sesama, dan tidak kehilangan realitas kehidupan, terlepas dari posisi sang ayah yang berada di puncak kekuasaan.

Di Balik Label “Hedon”

Manusia memang tempatnya kontradiksi. Sangat mudah bagi publik untuk menilai seseorang hanya dari satu atau dua foto yang beredar di dunia maya. Namun, menilai Syarifah Suraidah hanya dari narasi “hedon” adalah sebuah simplifikasi yang tidak adil.

Pakaian yang indah atau penampilan yang modis adalah hak setiap individu. Namun, esensi sejati dari seorang “Ibu Pejabat” terletak pada seberapa besar dampak kehadirannya bagi masyarakat kecil. Dan di ruang-ruang sepi, lewat jabatan tangan tulus kepada para pekerja kecil yang kerap terlupakan, Syarifah Suraidah telah membuktikan bahwa hatinya tetap tertambat pada kemanusiaan yang nyata. (setia wirawan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *