Subscribe

Kisah Inspiratif Yurni Handayani: Dari Teras Rumah di Samarinda Menyalakan Lentera Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat

3 minutes read

Samarinda, nusaetamnews.com : Di lereng bukit Jalan Anggur, Samarinda, sebuah gerakan kebaikan tumbuh bukan dari rencana besar di atas meja, melainkan dari ketulusan hati seorang perempuan bernama Yurni Handayani. Lahir pada 24 Agustus 1996, Yurni telah menunjukkan panggilan jiwa untuk berbagi sejak usianya masih belasan tahun.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, ia sudah terbiasa merangkul anak-anak di sekitar rumahnya untuk belajar membaca ayat suci. Niat mulia itu mulai mewujud nyata pada 2008 ketika ia baru menginjak usia 12 hingga 13 tahun dan duduk di kelas satu SMP. Dengan fasilitas seadanya di rumah lamanya di bawah bukit Jalan Anggur, ia membuka tempat mengaji sederhana.

Semangat itu tidak pernah padam. Ketika beranjak SMA dan pindah ke kawasan Gang SD, Yurni kembali membuka ruang belajar pada 2022 dengan mengusung satu kekuatan utama, yakni konsistensi.

Perlahan tapi pasti, anak-anak yang dulu belajar kepadanya kini tumbuh menjadi remaja yang siap meneruskan estafet kebaikan. Yurni mengajak mereka turut serta menjadi pengajar bagi adik-adik usia dini, menciptakan siklus regenerasi alami yang mengalir tanpa henti.

Memasuki masa kuliah hingga meraih gelar sarjana, Yurni memperluas jangkauan pengabdiannya dengan membuka bimbingan belajar di rumah yang sama. Ia melibatkan teman-teman masa kecilnya sebagai pengajar, memberikan mereka penghasilan pertama dari keringat dan ilmu yang dibagikan kepada sesama.

Seiring bertambahnya jumlah murid, Yurni bersama keluarganya merintis pendirian yayasan di atas tanah milik keluarga. Didukung penuh oleh sang ayah, berdirilah bangunan yang kini menjadi pusat kegiatan. Yayasan tersebut resmi terbentuk pada 2021, disusul pendirian PAUD Cakrawala Kaki Langit pada 2022 yang dikelola bersama sang kakak usai terdaftar di Dinas Pendidikan.

Langkah konsisten Yurni mengantarkannya meraih juara tiga nasional dalam ajang Pemuda Pelopor pada 2023. Perjalanan tersebut turut mempertemukannya dengan Febri dari PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Samarinda yang tengah mencari mitra binaan di wilayah Ring 2 operasional mereka.

Dari sinilah lahir kolaborasi apik yang mewujudkan Pendikresa atau Pendidikan Kreatif Samarinda. Ruang belajar berbasis komunitas ini menyediakan akses pendidikan yang layak, ruang aman, serta perlindungan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Dukungan Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Samarinda melengkapi gerakan ini lewat penyediaan sarana dan prasarana yang memadai. Berbagai kegiatan pun berkembang luas, mulai dari bimbingan keagamaan, akademik, olahraga, hingga pelestarian lingkungan.

Beragam karya nyata lahir dari kolaborasi ini. Warga setempat kini mahir mengolah kertas bekas menjadi barang bernilai guna seperti gelang, kerajinan tangan, hingga ribuan lembar tiket konser pesanan luar daerah berkat peralatan cetak yang diberikan Pertamina.

Selain itu, fasilitas olahraga seperti seperangkat alat panahan lengkap dan alat musik hadrah turut menghidupkan kegiatan warga. Tercatat sekitar 300 anak mengikuti latihan renang terjadwal, 50 orang belajar memanah, 15 anak mendalami hadrah, serta 50 peserta dari anak-anak hingga lansia rutin mengikuti pengajian di Taman Pendidikan Quran.

Ke depan, fokus pemberdayaan juga diarahkan pada pengelolaan sampah melalui pembentukan bank sampah. Warga diajak memilah sampah dari rumah, di mana sampah plastik diubah menjadi produk bernilai jual sementara sampah organik diolah menjadi kompos.

Yurni menyadari bahwa dirinya tidak bisa memberikan kemewahan materi. Namun, ia berhasil memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga, yakni mewarnai masa kecil anak-anak dengan hal positif dan menjauhkan mereka dari jalan yang keliru.

Seluruh kegiatan dikelola dengan prinsip gotong royong. Sebagian besar kegiatan seperti pengajian dan hadrah digratiskan sepenuhnya, sementara kelas panahan dan renang dikenakan biaya sangat ringan semata-mata untuk perawatan dan peremajaan peralatan.

Kisah Yurni Handayani menjadi bukti nyata bahwa kebaikan tidak membutuhkan kemegahan tempat untuk bermula. Berawal dari ketulusan hati di gang sempit Jalan Anggur Samarinda, gerakan ini kini mekar menjadi pohon harapan yang menebarkan inspirasi dan manfaat luas bagi masyarakat.(ant/one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *