Jaga Tradisi dan Gerakkan Ekonomi Mahakam Ulu, Sosok Elviana Ping Lestarikan Kriya Dayak Hingga Perbatasan
Mahakam Ulu, nusaetamnews.com : Di tengah riuk pikuk Festival Hudoq Pekayang di Kampung Long Pahangai II, Kabupaten Mahakam Ulu, jemari Elviana Ping tampak lincah menyusun manik-manik warna-warni di atas selembar kain taah, busana adat khas Dayak. Perajin berusia 49 tahun ini konsisten merawat warisan budaya sekaligus menggerakkan ekonomi warga di wilayah pedalaman Kalimantan Timur.
Lewat gerainya, Elviana tidak hanya menjual aneka kerajinan tangan seperti anjat, bluko, gelang manik, dan pakaian adat berhias sulaman motif lokal. Didampingi putri ketiganya, Luwing, ia memamerkan hasil karya yang memiliki nilai seni tinggi sekaligus prospek ekonomi menjanjikan.
Perjalanan Elviana melestarikan budaya Dayak tidak berhenti pada proses produksi semata. Sejak 2016, ia aktif menularkan keterampilannya dengan menjadi pelatih kerajinan tangan bagi kelompok perempuan, pelajar, mahasiswa, hingga instansi pemerintah di berbagai daerah, termasuk Kalimantan Utara dan Kutai Timur.
Ia mendirikan komunitas perempuan kreatif bernama Letut Udep di Pampang, Samarinda, lengkap dengan ruang pelatihan khusus. Hingga kini, lebih dari 1.000 orang telah mengecap ilmu kerajinan dengannya, termasuk 300 mahasiswa yang dilatih di Lamin Pampang pada awal Oktober 2026.
Dampak ekonomi dari karya kriya tradisional ini terasa nyata saat Festival Hudoq Pekayang berlangsung pada 20–22 Oktober 2026 di kawasan perbatasan Indonesia–Malaysia tersebut. Kegiatan tahunan yang menyedot lebih dari 3.000 pengunjung dari 13 kampung hingga wisatawan asal Malaysia ini menjadi ajang panen rezeki bagi para pelaku UMKM lokal.
Kerajinan buatan Elviana dibanderol bervariasi, mulai dari gelang manik seharga Rp20.000, dompet anyaman rotan Rp150.000 hingga Rp180.000, hingga bluko atau topi tari adat yang laku hingga Rp900.000 per buah. Dari penjualan tersebut, ia mengantongi omzet lebih dari Rp1 juta setiap harinya selama festival.
Camat Long Pahangai, Thomas Ding, menyampaikan bahwa festival budaya menjadi momen istimewa untuk mengenalkan produk unggulan daerah ke pasar yang lebih luas di samping fungsi utamanya sebagai sarana pelestarian tradisi.
Sementara itu, Bupati Mahakam Ulu, Angela Idang Belawan, berharap pengembangan festival budaya dapat menggerakkan roda ekonomi masyarakat secara berkelanjutan sepanjang tahun lewat kunjungan wisatawan, sekaligus memantik minat generasi muda untuk mempelajari dan mencintai warisan leluhur.(ant/one)