Subscribe

Kejar Target Eliminasi 2030, Berau Perkuat Sinergi Lintas Sektor Gempur Tuberkulosis

2 minutes read

Tanjung Redeb, Nusaetamnes.com :Pemerintah Kabupaten Berau tidak ingin main-main dalam urusan kesehatan masyarakat. Menuju target eliminasi Tuberkulosis (Tb) pada 2030, Bupati Berau Sri Juniarsih Mas menginstruksikan seluruh elemen—mulai dari kader, tokoh masyarakat, hingga sektor swasta—untuk bergerak bersama memperkuat benteng pertahanan kesehatan.

Upaya ini menjadi krusial mengingat data BPS Kaltim 2025 menempatkan Berau di urutan ke-6 tertinggi dalam penemuan kasus Tb di Kalimantan Timur, dengan angka 47,5 per 100.000 penduduk.

Prestasi Pengobatan Tertinggi di Kaltim

Meski tantangan penemuan kasus masih besar, Berau mencatatkan performa impresif dalam aspek penyembuhan. Pada 2025, tingkat keberhasilan pengobatan Tb di Berau mencapai 90,8 persen.

Angka ini bukan sekadar statistik; ini adalah capaian tertinggi di Kalimantan Timur, melampaui rata-rata provinsi yang berada di angka 77,15 persen. Namun, Bupati menekankan bahwa keberhasilan pengobatan tidak boleh membuat kewaspadaan kendor.

“Kewaspadaan harus terus ditingkatkan. Mari kita saling menjaga dengan menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari sebagai langkah pencegahan utama,” tegas Sri Juniarsih, Minggu (3/5/2026).

Perang Melawan Stigma dan Kepatuhan

Ketua PPTI Kabupaten Berau, Sri Aslinda Gamalis, menyoroti bahwa hambatan terbesar penanganan Tb saat ini bukan hanya soal medis, melainkan masalah sosial dan mentalitas. Stigma bahwa Tb adalah “penyakit kelas bawah” atau penyakit bawaan masih sering menghambat warga untuk memeriksakan diri.

“Stigma ini menjadi penghambat nyata. Siapa pun bisa terserang jika tidak hidup sehat. Kita butuh kemauan penderita untuk periksa dan komitmen menjalani pengobatan tanpa henti selama enam bulan,” jelas Aslinda.

Strategi Akselerasi Penanganan:

  • Deteksi Dini: Mendorong kader dan tenaga kesehatan untuk lebih proaktif menjemput bola dalam mendeteksi kasus di lapangan.
  • Seminar Edukasi: Memanfaatkan forum seperti seminar kesehatan di Bapelitbang untuk menyamakan persepsi antar-sektor.
  • Pendampingan Intensif: Memastikan pasien mendapatkan dukungan moral dan pengawasan selama masa pengobatan panjang agar tidak putus obat.

Aslinda mengajak masyarakat untuk membuang rasa takut. “Jangan ragu periksa jika ada gejala. Keberhasilan eliminasi ini adalah tanggung jawab kolektif, mulai dari pemerintah hingga unit terkecil yaitu keluarga pasien,” tutupnya. (ant/one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *