Kaltim Kejar Target ‘UNESCO Global Geopark’, Kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat Siap Diverifikasi Juli 2026
Samarinda, nusaetamnews.com : Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) kini tengah tancap gas melakukan akselerasi dokumen dan persiapan lapangan untuk kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat. Langkah ini merupakan persiapan krusial menjelang verifikasi nasional pada Juli 2026, sebagai pintu masuk menuju status bergengsi UNESCO Global Geopark.
Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kaltim, Ririn Sari Dewi, menegaskan bahwa fokus pemerintah saat ini adalah menyelaraskan rencana induk ( Master Plan ) dengan standar Bappenas dan memperkuat infrastruktur di lapangan.
“Kami sedang melakukan akselerasi sinkronisasi dokumen serta memperkuat visibilitas di lapangan agar standar nasional terpenuhi dengan sempurna. Ini bukti komitmen Kaltim bahwa pembangunan tidak hanya soal IKN, tapi juga pelestarian pesona geologi dunia,” tegas Ririn di Samarinda, Kamis (7/5).
Kekayaan Geologi: 26 Geosite Siap Unjuk Gigi
Secara teknis, Sangkulirang-Mangkalihat bukan sekadar jajaran tebing kapur. Kawasan ini merupakan laboratorium alam yang menyimpan kekayaan biodiversitas dan sejarah manusia purba.
Komposisi Kawasan Karst:
- 26 Geosite: Termasuk fenomena unik kerucut karst di Desa Merabu.
- 7 Situs Keanekaragaman Hayati: Hutan hujan tropis yang menjadi habitat spesies langka.
- 2 Situs Budaya: Jejak tangan purba ( rock art ) di gua-gua karst yang menjadi bukti peradaban manusia ribuan tahun lalu.
- Destinasi Unggulan: Fenomena alam air dua rasa di Labuan Cermin yang diproyeksi menjadi daya tarik utama bagi verifikator nasional.
Branding Masif & Kemandirian Pengelolaan
Untuk meningkatkan awareness, Pemprov Kaltim mulai membangun gerbang identitas di titik masuk kawasan serta memasang branding besar-besaran di bandara utama Kabupaten Berau dan Kutai Timur.
Selain pembangunan fisik, pemerintah juga mengkaji aspek kelembagaan:
- Opsi BLUD: Pengelolaan geopark direncanakan menggunakan sistem Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) agar lebih lincah dan mandiri secara finansial.
- Pemberdayaan Lokal: Masyarakat adat, seperti di Kampung Budaya Merabu, diposisikan sebagai pilar utama pelestarian sekaligus penggerak ekonomi wisata.
- Kolaborasi Ahli: Melibatkan akademisi dan praktisi profesional untuk memastikan tata kelola yang berkelanjutan (sustainable).
Misi Menuju UNESCO
Target jangka pendek adalah lolos verifikasi nasional pada Juli mendatang. Jika sukses, Geopark Sangkulirang-Mangkalihat akan resmi diajukan oleh Pemerintah Indonesia ke UNESCO.
“Jika verifikasi nasional ini sukses, kita akan sodorkan kawasan ini menjadi kandidat UNESCO Global Geopark. Ini adalah upaya kita membawa kekayaan alam Benua Etam ke panggung dunia,” pungkas Ririn. (ant/0ne)