Subscribe

Jangan Kucilkan ODHIV, Dinkes Samarinda: HIV Bisa Dikendalikan Asal Rutin Berobat

2 minutes read

Samarinda – Stigma terhadap Orang dengan HIV (ODHIV) dinilai masih menjadi tantangan besar dalam upaya pengendalian HIV di Samarinda. Padahal, dengan pengobatan yang rutin, ODHIV tetap bisa hidup sehat, produktif dan memiliki harapan hidup yang panjang.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda Ismed Kusasih menegaskan HIV bukanlah akhir dari segalanya. Yang terpenting adalah mengetahui status sejak dini dan disiplin menjalani terapi antiretroviral (ARV) agar infeksi tidak berkembang menjadi AIDS.

“HIV bisa dikendalikan. Yang penting pasien rutin berobat. Jangan sampai berkembang menjadi AIDS karena pada fase itu daya tahan tubuh sudah sangat lemah dan risikonya jauh lebih berat,” kata Ismed, Kamis (16/7/2026).

Ia menjelaskan masih banyak masyarakat yang menyamakan HIV dengan AIDS, padahal keduanya merupakan kondisi yang berbeda. HIV adalah virus yang masih dapat ditekan melalui pengobatan, sedangkan AIDS merupakan stadium lanjut ketika sistem kekebalan tubuh mengalami kerusakan berat akibat infeksi yang tidak ditangani.

Karena itu, Ismed mengajak masyarakat, terutama mereka yang memiliki faktor risiko, untuk tidak takut menjalani skrining HIV. Semakin cepat infeksi diketahui, semakin besar peluang pasien mempertahankan kualitas hidupnya melalui terapi yang tersedia.

Dinkes Samarinda juga memastikan layanan pengobatan HIV dapat diakses secara gratis di sejumlah puskesmas dan rumah sakit. Ketersediaan layanan tersebut diharapkan menghilangkan kekhawatiran masyarakat terhadap biaya pengobatan yang harus dijalani seumur hidup.

“Pengobatan HIV gratis. Fasilitas pelayanan kesehatan di Samarinda sudah menyediakan layanan sehingga pasien bisa mendapatkan terapi secara berkelanjutan,” ujarnya.

Namun, menurut Ismed, keberhasilan pengobatan tidak hanya bergantung pada obat. Dukungan keluarga dan lingkungan sekitar juga menjadi faktor penting. Karena itu, ia meminta masyarakat menghentikan stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV.

“Jangan jauhi orangnya. Yang harus kita lawan adalah penyakitnya, bukan manusianya,” tegasnya.

Ismed menambahkan pengendalian HIV membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Dunia pendidikan, organisasi masyarakat, komunitas, hingga berbagai pemangku kepentingan dinilai memiliki peran penting dalam memperluas edukasi, meningkatkan kesadaran dan mendorong deteksi dini.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Samarinda, kelompok lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki (LSL) masih menjadi kelompok dengan jumlah temuan kasus HIV terbanyak. Kondisi tersebut menjadi dasar pemerintah memperluas jangkauan skrining melalui kerja sama dengan berbagai organisasi dan komunitas agar infeksi dapat ditemukan sedini mungkin.

“Semakin cepat ditemukan, semakin cepat pula pengobatan dimulai. Itulah kunci agar HIV tetap terkendali dan tidak berkembang menjadi AIDS,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *