Geliat Ekonomi di Festival Hudoq Pekeyang, Bikin Produk Kriya Dayak Laris Manis dan UMKM Panen Cuan
Mahakam Ulu, nusaetamnews.com : Kemeriahan Festival Hudoq Pekeyang di Kecamatan Long Pahangai, Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, tidak cuma menjadi panggung pelestarian adat, budaya, serta simbol ketahanan pangan padi ladang. Gelaran tahunan ini juga mendatangkan berkah finansial bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal.
Dampak positif tersebut salah satunya dirasakan oleh Elviana Ping, seorang perajin sekaligus penjual beragam kriya estetika khas Suku Dayak. Menempati salah satu stan di arena bazar UMKM sepanjang festival berlangsung, ia mengaku kebanjiran pembeli setiap harinya.
Elviana mengungkapkan rasa syukurnya karena lapak usahanya selalu diserbu pengunjung. Dari hasil penjualan karya-karyanya, ia mampu mengantongi omzet harian lebih dari Rp1 juta selama gelaran pesta budaya tersebut.
Produk yang ditawarkannya sangat beragam, mencapai sekitar 50 jenis kerajinan tangan. Beberapa di antaranya meliputi baju manik, taah (kain tapih khas), gelang, anting, kalung, tapung (topi tradisional), bluko (topi khusus penari adat), anjat (tas ransel anyaman rotan), hingga dompet. Karyanya diproduksi secara mandiri di dua tempat tinggalnya, yakni di Datah Bilang (Mahakam Ulu) dan Pampang (Samarinda).
Etos kerja tinggi juga terpancar dari sosok Elviana. Di tengah riuk pikuk bazar, jemarinya tetap lincah menyulam manik-manik pada kain taah, menjahit aksesoris bluko pesanan pembeli, hingga merangkai gelang. Sementara tugas melayani transaksi pembeli diserahkan kepada sang anak.
Harga produk kriya yang ditawarkan bervariasi, disesuaikan dengan tingkat kesulitan pembuatan, kerumitan motif, serta kelangkaan bahan baku. Kisaran harganya dimulai dari Rp20 ribu untuk gelang manik sederhana, tempat ponsel anyaman rotan seharga Rp150 ribu hingga Rp180 ribu, hingga topi bluko yang dibanderol antara Rp700 ribu sampai Rp900 ribu.
Geliat ekonomi tak hanya membasahi gerai kriya dan cenderamata. Roda perekonomian masyarakat secara keseluruhan ikut berputar kencang. Lapak kuliner, warung makan, toko kelontong, hingga penyedia penginapan lokal turut memanen rezeki seiring membludaknya ribuan pengunjung dan peserta festival yang memadati kawasan Long Pahangai.(ant/one)