Ekraf Kaltim Sumbang 6,19 Persen PDRB, Pemprov Didorong Tak Sekadar Bangun Ruang Kreatif
SAMARINDA — Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mulai menempatkan ekonomi kreatif (ekraf) sebagai salah satu tumpuan diversifikasi ekonomi di tengah ketergantungan daerah terhadap sektor tambang dan migas. Namun di balik naiknya kontribusi ekraf terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menjadi 6,19 persen pada 2025, tantangan terbesar justru dinilai berada pada keberlanjutan ekosistem dan keberpihakan kebijakan.
Komitmen itu terlihat dari penyusunan Rencana Induk Pengembangan Ekonomi Kreatif Daerah (Rindekrafda) Kaltim 2026–2030 yang dibahas di Temindung Creative Hub (TCH), Samarinda, Rabu (13/5/2026).
Sekretaris Daerah Kaltim Sri Wahyuni menegaskan, pengembangan ekraf tidak cukup hanya menghadirkan ruang kreatif atau agenda seremonial, tetapi harus mampu menciptakan kontribusi nyata terhadap ekonomi daerah.
“Connect, Collabs, Contribute. Koneksi dan kolaborasi penting, tetapi yang paling utama adalah sejauh mana ekonomi kreatif bisa berkontribusi terhadap pertumbuhan daerah,” kata Sri Wahyuni saat menjadi keynote speaker.
Menurutnya, Temindung Creative Hub harus berkembang menjadi pusat inkubasi pelaku ekonomi kreatif, bukan sekadar lokasi pameran dan event komunitas.
“Creative Hub ini harus bisa menjadi inkubasi pelaku ekraf di Kaltim,” tegasnya.
Pemprov Kaltim kini mulai memetakan subsektor prioritas yang dinilai mampu menciptakan efek berganda terhadap sektor lain. Seni pertunjukan misalnya, dinilai dapat menggerakkan subsektor desain, musik, fesyen hingga industri konten digital.
Sri Wahyuni menilai pengembangan ekraf juga harus dibangun dari hulu ke hilir, mulai dari penyediaan bahan baku, pembiayaan, peningkatan kualitas SDM hingga akses distribusi dan pasar.
Data Pemprov menunjukkan, kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDRB Kaltim terus meningkat. Pada 2023, ekraf menyumbang 5,61 persen atau sekitar Rp29,43 triliun. Sektor kuliner masih mendominasi dengan nilai Rp18,16 triliun atau 61,7 persen dari total kontribusi ekraf. Disusul fesyen Rp4,11 triliun dan kriya Rp2,91 triliun.
“Pada 2025 kontribusi ekraf naik menjadi 6,19 persen,” ungkap Sri Wahyuni.
Kenaikan itu menjadi sinyal bahwa sektor kreatif mulai tumbuh sebagai mesin ekonomi alternatif di luar sektor ekstraktif. Namun pelaku usaha kreatif di Kaltim masih menghadapi sejumlah persoalan klasik, mulai dari minimnya akses pendanaan, lemahnya perlindungan pasar lokal, hingga belum meratanya fasilitas pengembangan usaha di kabupaten dan kota.
Pemprov menetapkan kuliner, kriya-wastra dan aplikasi digital sebagai subsektor unggulan masa depan. Sementara seni pertunjukan, fotografi, videografi, film dan musik diproyeksikan menjadi sektor potensial yang akan didorong dalam lima tahun mendatang.
Di tengah ambisi menjadikan Kaltim sebagai pusat ekonomi baru penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN), sektor ekonomi kreatif dinilai menjadi salah satu peluang strategis agar pertumbuhan ekonomi daerah tidak terus bergantung pada komoditas tambang yang rentan fluktuasi global.
Acara tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Pariwisata Kaltim Ririn Sari Dewi serta para pelaku ekonomi kreatif dari berbagai subsektor di Kaltim.