Dari Tambang ke Sawit, Kaltim Mulai Menggeser Arah Ekonomi
SAMARINDA – Kaltim sedang mencari jalan keluar dari ketergantungan pada tambang. Di tengah geliat batu bara yang masih menjadi penopang ekonomi, perkebunan kelapa sawit mulai dilirik sebagai mesin ekonomi yang bisa terus hidup dalam jangka panjang.
Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji menyebut transformasi dari industri ekstraktif menuju sektor berkelanjutan menjadi salah satu arah yang ingin didorong pemerintah daerah.
“Justru itu yang kami harapkan, bahwa adanya transformasi industri dari industri ekstraktif, pertambangan dan sebagainya menjadi industri yang berkelanjutan,” kata Seno saat menghadiri Workshop Pembenihan dan Pembudidayaan Kelapa Sawit yang digelar Forum Petani Kelapa Sawit (FPKS) Kaltim di Golden Season Hotel Samarinda, Selasa (6/10/2026).
Sawit memiliki karakter yang berbeda dengan tambang. Batu bara akan habis ketika terus dieksploitasi. Sementara tanaman sawit dapat diremajakan dan kembali menghasilkan.
“Kelapa sawit menjadi salah satu tujuan kita karena dia bisa di-replanting dan bisa berpuluh-puluh tahun untuk menghasilkan,” ujarnya.
Peluang itu dinilai semakin terbuka seiring meningkatnya kebutuhan minyak sawit untuk mendukung program B50. Jika dikelola dengan baik, peningkatan kebutuhan tersebut bukan hanya menggerakkan industri, tetapi juga berpotensi memperbesar nilai ekonomi yang diterima petani.
Karena itu, Seno menekankan transformasi ekonomi Kaltim tidak boleh hanya berhenti pada pergeseran sektor. Petani juga harus menjadi bagian penting dari rantai ekonomi tersebut.
Pemprov Kaltim, kata dia, telah memberikan perlakuan harga Tandan Buah Segar (TBS) yang sama antara petani mandiri dan petani plasma. Langkah itu diharapkan memperkuat posisi petani mandiri sekaligus mendorong mereka meningkatkan produktivitas kebunnya.
Namun, produktivitas bukan satu-satunya pekerjaan rumah. Seno mengingatkan pengembangan sawit tetap harus berjalan dengan prinsip keberlanjutan dan sesuai aturan pemanfaatan lahan.
“Kita membina para petani bagaimana untuk menjadikan kebunnya adalah kebun yang berkelanjutan atau sustainable,” tegasnya.
Sebanyak sekitar 90 peserta dari Berau, Kutai Timur, Bontang, Balikpapan, Penajam Paser Utara dan Paser mengikuti workshop tersebut. Forum itu menjadi ruang bagi petani untuk memperkuat pengetahuan, mulai dari pembenihan hingga pengelolaan kebun.
Seno juga mendorong FPKS tidak berhenti sebagai forum komunikasi. Ia berharap organisasi tersebut berkembang menjadi kekuatan ekonomi petani melalui pembentukan koperasi.
Koperasi dinilai dapat menjadi wadah bersama untuk memperkuat posisi tawar petani, mengelola usaha secara kolektif, sekaligus memperbesar manfaat ekonomi yang diterima anggota.
“Harapannya dari FPKS ini membentuk wadah koperasi yang bisa menyejahterakan anggota,” pungkasnya.
Mimpi mengurangi ketergantungan terhadap tambang tentu bukan perkara membalik telapak tangan. Namun, ketika sawit dikelola secara berkelanjutan dan petani ditempatkan sebagai bagian penting dari rantai ekonomi, perkebunan bisa menjadi salah satu pijakan menuju ekonomi yang tidak selamanya bergantung pada sumber daya yang suatu hari akan habis.