China Desak Deeskalasi AS-Iran, Trump Klaim China Dukung Blokade Selat Hormuz
Beijing, nusaetamnews.com : Pemerintah China resmi memberikan sinyal hijau terhadap rencana kelanjutan perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Langkah ini diambil di tengah tensi panas yang menyelimuti kawasan Timur Tengah setelah blokade Selat Hormuz diberlakukan.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menegaskan bahwa Beijing sangat menghargai peran Pakistan sebagai mediator dalam mengupayakan gencatan senjata sementara. Menurutnya, prioritas dunia saat ini adalah mencegah pecahnya kontak senjata susulan.
“China menyambut setiap upaya yang bisa mengakhiri konflik. Kami memuji Pakistan atas mediasi yang adil dan seimbang,” ujar Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing, Rabu (15/4).
4 Poin Xi Jinping untuk Timur Tengah
Di sela pertemuan dengan Putra Mahkota UEA, Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan, Presiden Xi Jinping menitipkan pesan serius. Ada empat poin utama yang diusulkan China untuk menjaga stabilitas kawasan:
- Komitmen pada prinsip hidup berdampingan secara damai.
- Penghormatan terhadap kedaulatan nasional.
- Penegakan supremasi hukum internasional.
- Pendekatan seimbang antara pembangunan dan keamanan.
Drama “Deal or No Deal” Trump-Iran
Situasi ini bermula dari serangan AS-Israel ke Teheran pada 28 Februari lalu, yang memicu aksi balasan Iran ke fasilitas militer AS. Meski sempat ada titik terang lewat kesepakatan gencatan senjata dua pekan yang diumumkan Donald Trump pada Sabtu (11/4), proses ini sempat buntu.
Wapres JD Vance sebelumnya menyatakan negosiasi di Islamabad gagal total pada Minggu (12/4), yang berujung pada perintah blokade Selat Hormuz oleh Trump. Namun, eskalasi kembali melunak setelah Trump mengisyaratkan negosiasi putaran kedua akan digelar di Pakistan dalam waktu dekat.
Incar “Grand Bargain”, Bukan Kesepakatan Kecil
JD Vance diprediksi kembali memimpin delegasi AS. Ia menegaskan bahwa Trump tidak tertarik pada solusi jangka pendek atau “kesepakatan kecil”.
“Trump ingin big deal. Pesannya simpel: Jika Iran mau bertindak seperti negara normal, kami akan memperlakukan ekonomi mereka secara normal juga,” tegas Vance.
Kini, mata dunia tertuju pada Pakistan. Akankah diplomasi berhasil meredam blokade Selat Hormuz, atau justru Timur Tengah kembali terperosok dalam krisis yang lebih dalam? China memastikan diri siap bekerja sama dengan komunitas internasional untuk memastikan perdamaian segera pulih.
Trump Klaim China Dukung Blokade Selat Hormuz
Sementara itu,Presiden AS Donald Trump kembali melempar klaim panas melalui platform Truth Social, Rabu (15/1). Trump menyatakan bahwa China kini berada di pihaknya terkait misi pembukaan paksa Selat Hormuz yang selama ini menjadi urat nadi minyak dunia.
Dalam unggahannya, Trump mengeklaim Beijing menyambut baik langkah drastis AS tersebut. “China sangat senang saya membuka secara permanen Selat Hormuz. Saya melakukannya untuk mereka dan dunia. Situasi (konflik) ini tidak akan terulang lagi,” tulis Trump.
Kesepakatan “Cerdas” dengan Beijing
Tak hanya soal jalur laut, Trump juga membocorkan adanya komitmen baru dari China untuk menghentikan suplai militer ke Teheran. “Mereka telah sepakat untuk tidak mengirim senjata ke Iran,” tambahnya.
Trump menilai hubungan Washington-Beijing saat ini sedang dalam fase kolaboratif yang menguntungkan. Ia menyebut kerja sama jauh lebih cerdas dibandingkan harus terus-menerus terlibat dalam konflik terbuka.
Kronologi Panas: Dari Gencatan Senjata ke Blokade
Situasi di Selat Hormuz memang sedang berada di titik didih. Berikut adalah timeline singkatnya:
- Sabtu (11/4): AS dan Iran sempat berdialog di Islamabad untuk gencatan senjata dua pekan.
- Minggu (12/4): Wapres J.D. Vance mengumumkan negosiasi gagal total. Delegasi AS pulang dengan tangan hampa.
- Senin (13/4): Angkatan Laut AS langsung bergerak melakukan blokade total terhadap lalu lintas maritim pelabuhan Iran di Selat Hormuz.
Nasib 20% Pasokan Energi Dunia
Langkah blokade ini bukan perkara sepele. Selat Hormuz menyumbang sekitar 20 persen pasokan minyak, produk petroleum, dan LNG dunia.
Washington memberikan syarat ketat: kapal non-Iran tetap diizinkan melintas, asalkan tidak membayar biaya sepeser pun kepada Teheran. Meski Iran sendiri belum secara resmi menerapkan pungutan lintas selat tersebut, AS memilih melakukan preemptive strike melalui pemblokiran jalur navigasi.
Hingga saat ini, pihak Beijing belum memberikan pernyataan resmi terkait klaim sepihak Trump soal penghentian pengiriman senjata ke Iran. Namun yang pasti, langkah AS di Selat Hormuz telah mengubah peta stabilitas energi global secara instan.(ant/one)