Bersih Desa Bukuan Bukan Sekadar Tradisi, Seno Aji Ajak Warga Perkuat Gotong Royong
SAMARINDA – Di tengah derasnya arus modernisasi, tradisi tak boleh sekadar menjadi tontonan tahunan. Nilai gotong royong, kebersamaan, dan penghormatan terhadap warisan leluhur harus tetap hidup di tengah masyarakat. Pesan itulah yang mengemuka dalam Gebyar Seni dan Budaya Bersih Desa Kelurahan Bukuan, Kecamatan Palaran, Samarinda, Minggu (25/10/2026).Wakil Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Seno Aji mengapresiasi masyarakat Bukuan yang konsisten menjaga tradisi melalui perayaan yang memadukan seni, budaya, dan kebersamaan warga.Menurutnya, bersih desa bukan sekadar agenda rutin, melainkan momentum untuk memperkuat ikatan sosial sekaligus menumbuhkan rasa memiliki terhadap lingkungan tempat tinggal.”Momentum ini semakin memperkuat rasa memiliki terhadap daerah, menumbuhkan semangat gotong royong, serta mendorong seluruh masyarakat untuk bersama-sama mewujudkan Bukuan yang semakin maju, bersih, aman, dan sejahtera,” kata Seno Aji saat menghadiri kegiatan di Lapangan Sepak Bola SDN 004, Jalan Nahkoda RT 14, Kelurahan Bukuan.Wagub menegaskan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun memiliki nilai penting bagi kehidupan bermasyarakat. Bukan hanya menjaga identitas budaya, tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi antarwarga.”Kegiatan yang dilaksanakan setiap tahun ini sangat baik karena dapat menjalin silaturahmi antarmasyarakat Palaran. Sekaligus menjaga dan melestarikan seni dan budaya kita,” ujarnya.*Jangan Sampai Generasi Muda Kehilangan Akar Budaya*Seno menilai kemajuan zaman tidak seharusnya membuat generasi muda tercerabut dari akar budayanya. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi harus berjalan beriringan dengan pemahaman terhadap tradisi serta nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu.Budaya, menurutnya, mengandung pelajaran tentang kebersamaan, penghormatan kepada sesama, kerja keras, dan gotong royong. Nilai-nilai tersebut perlu terus ditanamkan agar menjadi bagian dari karakter generasi penerus.”Kita ingin generasi muda Bukuan tumbuh sebagai generasi yang terbuka terhadap kemajuan, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi mengenal akar budaya serta menghargai nilai-nilai luhur yang diwariskan orang tua dan para sesepuh,” tuturnya.Karena itu, kegiatan seni dan budaya seperti yang digelar masyarakat Bukuan dinilai penting untuk membuka ruang bagi generasi muda mengenal, menyaksikan, sekaligus meneruskan warisan budaya di tengah perubahan zaman.Tak hanya berbicara tentang pelestarian tradisi, Seno juga mengingatkan bahwa makna bersih desa harus diwujudkan melalui kepedulian nyata terhadap lingkungan.Menurutnya, lingkungan yang bersih tidak cukup dibangun melalui kegiatan gotong royong sesekali. Kesadaran menjaga kebersihan harus tumbuh menjadi kebiasaan sehari-hari, mulai dari rumah, halaman, jalan lingkungan, saluran drainase, hingga ruang publik.Semangat kebersamaan yang terbangun dalam perayaan tersebut diharapkan tidak berhenti ketika acara selesai. Justru, nilai gotong royong harus semakin kuat dalam kehidupan masyarakat.Sebelum menyaksikan berbagai atraksi seni dan budaya, Seno Aji bersama istri dan panitia penyelenggara melepas kirab budaya yang diikuti 21 peserta dari kelompok dasa wisma sejumlah RT di Kelurahan Bukuan.Kirab berlangsung meriah dengan kehadiran Reog Ponorogo Singo Baruno, komunitas masyarakat, pelajar tingkat SD dan SMP, serta perkumpulan pencak silat. Beragam penampilan tersebut mencerminkan kekayaan budaya yang tumbuh dan hidup di tengah masyarakat Bukuan.