Subscribe

Toko Kebun Kaltim Raup Rp46,85 Miliar, Si Manis Madu Percepat Layanan Darurat

4 minutes read

JAKARTA – Inovasi Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) bukan sekadar mengejar penghargaan. Dua program yang dipaparkan Sekretaris Daerah (Sekda) Sri Wahyuni dalam ajang Innovative Government Award (IGA) 2026 membawa persoalan yang langsung bersentuhan dengan masyarakat: memperluas pasar produk perkebunan dan mempercepat layanan darurat kesehatan.Mewakili Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud, Sri mempresentasikan inovasi daerah di Command Center Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Kamis (5/11/2026).Dalam forum tersebut, Kaltim bersama sembilan kepala daerah di Regional Kalimantan memaparkan inovasi sekaligus strategi menjawab persoalan pembangunan di daerah masing-masing.Sri menegaskan, inovasi Kaltim diarahkan untuk menjawab sejumlah tantangan, mulai dari kualitas dan daya saing sumber daya manusia (SDM), transformasi ekonomi, lingkungan hidup, infrastruktur, kesenjangan pembangunan hingga tata kelola pemerintahan.Meski Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kaltim berada di peringkat keempat nasional, peningkatan kualitas SDM tetap menjadi pekerjaan penting.”Gubernur Kaltim memiliki program bantuan pendidikan gratis untuk meningkatkan kualitas SDM. Meski IPM kami peringkat keempat di nasional, daya saing ini perlu agar SDM kami kompetitif,” kata Sri.Di sektor ekonomi, Pemprov Kaltim mendorong pergeseran dari ketergantungan pada sumber daya alam tidak terbarukan menuju pengembangan industri hilir. Pemerintah daerah juga telah menyusun desain besar transformasi ekonomi untuk memperkuat struktur ekonomi yang lebih berkelanjutan.Persoalan lingkungan, terutama kebakaran hutan dan lahan (karhutla), turut menjadi perhatian. Dana carbon fund dari Bank Dunia dimanfaatkan untuk mempertahankan hutan alam sekaligus memulihkan kawasan kritis.”Pembangunan infrastruktur menjadi fokus kami, sebab wilayah Kaltim yang luas. Juga peningkatan tata kelola pemerintahan yang bersih dan transparan,” ujarnya.*Toko Kebun Kaltim, dari Outlet hingga Pasar Digital*Dua inovasi yang menjadi andalan Kaltim dalam presentasi IGA 2026 terdiri dari inovasi non-digital dan digital.Inovasi non-digital yang dipaparkan adalah Toko Kebun Kaltim, program Dinas Perkebunan yang dirancang untuk memperluas akses pasar produk perkebunan sekaligus membuka peluang kemitraan bagi pelaku usaha dan kelompok tani.Dirintis sejak 2021, Toko Kebun Kaltim terus berkembang. Awalnya hanya berupa outlet pemasaran, inovasi ini kemudian melibatkan semakin banyak UMKM dan memperluas jangkauan penjualan melalui berbagai platform digital.Pemasaran kini merambah marketplace Shopee dan TikTok Shop, serta didukung kanal Tokopedia, Instagram dan WhatsApp.Pada 2026, pengembangan berlanjut melalui sistem e-katalog dan pemesanan daring berbasis website resmi.Hasilnya, Toko Kebun Kaltim kini melibatkan 53 pelaku usaha dan 27 kelompok tani, dengan sekitar 110 produk dan varian.Jaringan pemasaran juga diperkuat melalui tiga kanal e-commerce serta media sosial, ditambah tujuh mitra ritel swalayan besar.Nilai transaksi yang dicatat mencapai Rp46,85 miliar per tahun atau sekitar Rp3,9 miliar per bulan.Angka tersebut menjadi gambaran bagaimana inovasi pemasaran dapat mempertemukan produk perkebunan daerah dengan pasar yang lebih luas, sekaligus memperkuat peluang usaha pelaku lokal.”Inovasi Toko Kebun Kaltim sudah diinisiasi sejak tahun 2021 hingga saat ini terus bertransformasi,” jelas Sri.*Si Manis Madu, Digitalisasi untuk Kegawatdaruratan*Inovasi kedua yang dipresentasikan adalah Aku Si Manis Madu, singkatan dari Evakuasi Ambulans Sistem Terpadu.Berbeda dengan Toko Kebun Kaltim yang berfokus pada perluasan pasar, inovasi ini menyasar kebutuhan pelayanan kesehatan, khususnya penanganan kegawatdaruratan dan layanan instalasi gawat darurat (IGD).Si Manis Madu dikembangkan sebagai inovasi digital untuk mendukung Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT).Melalui sistem tersebut, pemerintah daerah berupaya memperkuat koordinasi layanan ambulans, fasilitas kesehatan dan masyarakat agar penanganan pasien dalam kondisi darurat dapat berlangsung lebih cepat dan terintegrasi.Sri menilai inovasi ini menjadi bagian penting dari transformasi digital sektor kesehatan, terutama dalam meningkatkan mutu pelayanan publik dan memperkuat sistem rujukan.”Inovasi ini sangat jelas mendukung transformasi digital kesehatan dan peningkatan mutu layanan publik. Juga memperkuat SPGDT dan layanan rujukan, serta mendorong sinergi pemerintah daerah, fasilitas kesehatan dan masyarakat,” pungkasnya.Selain memamerkan dua inovasi tersebut, Sri menjelaskan bahwa Pemprov Kaltim terus memperkuat ekosistem inovasi melalui regulasi, perencanaan dan kolaborasi riset.Setiap organisasi perangkat daerah (OPD) diwajibkan menghadirkan minimal satu inovasi setiap tahun. Skema quick win satu OPD satu inovasi menjadi salah satu cara mendorong perubahan konkret dalam pelayanan dan tata kelola pemerintahan.Pemprov Kaltim juga membangun kerja sama dengan peneliti dan perguruan tinggi, serta memiliki rencana induk dan peta jalan riset, inovasi dan pemajuan ilmu pengetahuan serta teknologi.Langkah tersebut diarahkan agar inovasi tidak hanya menjadi program unggulan saat mengikuti kompetisi, tetapi terus berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *