Cegah Timbulan Limbah Dapur MBG di TPA, DLH Kaltim Wajibkan Pengelola Dapur Gandeng Mitra Kebersihan
Samarinda, nusaetamnews.com : Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Kalimantan Timur resmi memperketat tata kelola sampah yang dihasilkan dari dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Kebijakan ini diterapkan demi mencegah lonjakan beban di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sekaligus memastikan kebersihan serta higienitas pangan tetap terjaga.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Kaltim, Andi Sitti Asti Suriaty, menegaskan bahwa pihak pengelola dapur MBG dilarang keras mengolah limbahnya secara mandiri. Langkah ini diambil mengingat keterbatasan tenaga kerja di dapur serta standar ketat higienitas makanan.
Sebagai solusinya, SPPG diwajibkan bermitra dengan Mitra Kebersihan, pihak ketiga, Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), maupun Bank Sampah untuk mengelola limbah yang dihasilkan.
Langkah antisipasi ini tergolong krusial mengingat masifnya potensi timbulan sampah dari program tersebut. Berdasarkan pemantauan DLH Kaltim, saat ini terdapat 196 SPPG yang beroperasi di seluruh wilayah Kaltim dengan rata-rata potensi sampah harian mencapai 9.815,54 kilogram sampah organik dan 1.829,09 kilogram sampah anorganik.
Kota Samarinda (56 SPPG) dan Kabupaten Kutai Kartanegara (40 SPPG) tercatat sebagai penyumbang limbah dapur MBG terbesar. Volume sampah organik harian dari Kukar menembus angka 2.769,18 kilogram, disusul Samarinda sebesar 2.714,44 kilogram per hari. Sebaliknya, Kabupaten Paser dan Kutai Barat yang masing-masing baru mengoperasikan 3 SPPG mencatatkan timbulan sampah paling minimal.
Penerapan skema kemitraan ini sejalan dengan regulasi per 1 Agustus 2026, di mana pemerintah hanya mengizinkan sampah berjenis residu yang boleh masuk ke TPA. Artinya, seluruh sampah non-residu dari dapur MBG wajib diproses dan didaur ulang langsung dari sumbernya.
Tak cuma memperketat pengelolaan limbah produksi, DLH Kaltim juga mendorong gerakan penyelamatan pangan layak konsumsi. Melalui inisiatif donasi sisa makanan di wilayah Samarinda, sekitar 61,7 kilogram makanan layak konsumsi per hari berhasil diselamatkan dari dapur MBG agar tidak terbuang sia-sia. (ant/one)