Subscribe

Jaga Gambar Cadas Purba, BPKW XIV Tugaskan Juru Pelihara di 6 Gua Prasejarah Kutai Timur

2 minutes read

Samarinda, nusaetamnews.com : Kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat di Kutai Timur gak cuma eksotis, tapi juga menyimpan mesin waktu peradaban manusia purba. Demi menjaga kelestarian situs warisan dunia ini, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) XIV Kaltim-Kaltara bergerak taktis dengan menerjunkan tim khusus “Juru Pelihara” di enam gua prasejarah paling iconic.

“Kami menempatkan para juru pelihara di lokasi cagar budaya tersebut agar warisan bersejarah ini tetap terjaga, sekaligus memberikan pendampingan informasi bagi masyarakat,” ujar Kepala BPKW XIV Kaltim-Kaltara, Titit Lestari, di Samarinda, Sabtu (30/5).

Keenam situs bersejarah yang dilindungi ketat ini semuanya berlokasi di Desa Tepian Langsat, Kabupaten Kutai Timur.

Kenalan dengan “Penjaga Waktu” di 6 Gua Prasejarah Kutim

Para juru pelihara ini punya tugas penting: menjaga fisik situs dari vandalisme, merawat area gua, sekaligus jadi pemandu edukasi buat para traveler yang datang. Yuk intip daftarnya:

Nama Situs Gua Karakteristik Unik Sang Juru Pelihara
Gua Tewet Menyimpan keindahan lukisan/gambar cadas purba. Rusdiansyah
Gua Tewet Atas Kawasan ceruk eksotis yang berada tepat di atas Gua Tewet. Johansyah
Ceruk Pindi Memiliki struktur unik berbentuk terowongan purba. Satriadi
Gua Tengkorak Menyimpan banyak jejak autentik aktivitas prasejarah. Sugianor
Ceruk Karim Situs penting yang sering jadi jujukan riset arkeologi. Muhammad Hendra
Gua Gerigi Saleh Ruang gua sangat luas dengan ratusan motif gambar tangan purba. Stepanus Gung

Gak Cuma Jaga Gua, tapi Juga Siap Jadi Content Buddy Kamu!

Menariknya, kehadiran para juru pelihara di lapangan ini bikin pengalaman traveling kamu jadi jauh lebih berbobot. Mereka gak cuma berdiri diam menjaga aset, tapi siap membagikan cerita mind-blowing seputar sejarah, nilai arkeologis, hingga kondisi terkini dari masing-masing gua.

Ikut Kasih Rating dan Evaluasi!

Sebagai pengelola, BPKW XIV juga mengajak para pengunjung atau pencinta sejarah untuk aktif memberikan penilaian objektif terhadap kualitas layanan di kawasan warisan budaya ini.

Semua masukan, kritik, maupun saran dari pengunjung sangat dibutuhkan sebagai bahan evaluasi demi meningkatkan kualitas fasilitas dan pelestarian ke depan.

“Upaya berkelanjutan melalui program pendampingan mampu mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga dan merawat jejak peradaban yang sangat berharga ini,” pungkas Titit Lestari. (ant/one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *