Subscribe

Alunan Takbir di Tepian Mahakam: Membidik Semarak Kebersamaan Iduladha di Samarinda

4 minutes read

WEWANGIAN khas hidangan berkuah santan mulai menyeruak dari dapur-dapur rumah warga di bantaran Sungai Mahakam. Sementara itu, di sudut-sudut kota, lamat-lamat suara takbir mulai bersahutan menandakan hari yang fitri bagi umat Islam telah tiba. Iduladha di Samarinda bukan sekadar ritual ibadah tahunan; ini adalah panggung besar di mana nilai keguyuban, tradisi lokal, dan rasa syukur masyarakat Kota Tepian melebur jadi satu.

Prolog: Simfoni Takbir yang Membakar Semangat Malam

Sebelum matahari terbit di hari kurban, denyut nadi kemeriahan Samarinda sebenarnya sudah memuncak sejak malam sebelumnya. Gema takbir raya merayap keluar dari pengeras suara masjid dan musala, menyatu dengan gemuruh riuh di jalanan protokol kota.

Jalur-jalur utama seperti Jalan Gajah Mada, Jalan Jenderal Sudirman, hingga kawasan tertib lalu lintas di Jalan Awang Long mendadak berubah menjadi lautan lampu berkerlap-kerlip. Pawai takbiran keliling—baik yang dikoordinasikan secara resmi maupun iring-iringan swadaya masyarakat—selalu sukses memukau mata.

Mobil-mobil bak terbuka yang dihias replika masjid atau bedug raksasa melaju perlahan, mengangkut anak-anak muda dan tokoh masyarakat yang melantunkan takbir dengan penuh suka cita. Tabuhan bedug yang ritmis beradu dengan klakson kendaraan yang sahut-menyahut, menciptakan atmosfer perayaan yang megah sekaligus menghangatkan hati di sepanjang tepian Mahakam. Warga pun tumpah ruah di pinggir jalan, mengabadikan momen setahun sekali ini dengan gawai mereka.

Titik Utama: Sajadah Panjang dan Gema Takbir Raya

Setelah melewati malam yang panjang dan meriah, titik episentrum pelaksanaan Salat Iduladha di Samarinda dipastikan tetap berpusat di Masjid Baitul Muttaqien (Islamic Center Samarinda). Masjid megah yang berdiri di tepi Sungai Mahakam ini selalu sukses memutihkan kawasannya sejak fajar menyingsing. Ribuan warga dari berbagai penjuru kecamatan rela datang lebih awal demi bisa merasakan syahdunya bersujud di bawah kubah besarnya yang menawan.

Selain Islamic Center, pusat kekhidmatan juga akan berporos di Masjid Raya Darussalam yang terletak di kawasan Pasar Pagi.

Sebagai salah satu masjid bersejarah di Samarinda, area sekitar Pasar Pagi hingga jalan raya di depannya biasanya akan ditutup sementara untuk menampung luapan jemaah yang meluber hingga ke luar halaman masjid.

Yang Menarik: Berburu Tontonan “Sapi Jumbo” dan Tradisi Ziarah

Salah satu daya tarik yang paling dinanti warga—terutama anak-anak—setelah menunaikan Salat Id adalah momen pemotongan hewan kurban. Di Samarinda, beberapa masjid besar kerap mendapat perhatian lebih karena menjadi tempat penyembelihan sapi kurban ukuran raksasa, termasuk sapi bantuan kemasyarakatan dari Presiden maupun tokoh-tokoh daerah Kaltim yang bobotnya bisa mencapai hampir satu ton.

Menyaksikan prosesi merobohkan sapi berukuran “monster” ini sering kali menjadi tontonan gratis yang seru sekaligus menegangkan bagi warga sekitar masjid.

Tak hanya itu, ada tradisi unik yang tak pernah lewat saat Iduladha di Samarinda, yaitu Ziarah Akbar di Makam Daeng Mangkona yang berada di Samarinda Seberang. Setelah selesai membagikan daging kurban atau bersilaturahmi dengan keluarga inti, banyak warga asli maupun pendatang yang menyempatkan diri berziarah ke makam pahlawan dan pendiri kota ini. Suasana di area pemakaman seketika menjadi ramai oleh peziarah dan penjual kembang tabur.

Hidangan Khas: Aroma Sate dan Coto di Gang-Gang Kota

Sore hari pasca-Iduladha, pemandangan di Samarinda akan berubah total. Gang-gang sempit di sudut-sudut pemukiman, seperti di kawasan Lambung Mangkurat, Jl. dr. Soetomo, hingga kelurahan di Samarinda Seberang, akan dipenuhi oleh asap putih yang mengepul.

Warga bergotong-royong mendirikan bakaran sate dadakan di depan rumah. Daging kurban yang baru saja dibagikan siang harinya langsung diolah bersama tetangga. Bagi warga keturunan Sulawesi yang menetap di sini, aroma bumbu Coto Makassar yang kaya rempah juga akan mendominasi piring-piring saji, bersanding dengan ketupat atau buras.

Malam harinya, warga biasanya memilih menghabiskan sisa libur dengan bersantai di area Taman Samarendah atau sekadar menikmati jagung bakar di sepanjang tepian jalan Mahakam. Iduladha di Kota Tepian memang selalu sukses menghadirkan kehangatan yang sederhana namun mendalam: tentang berbagi sepotong daging kurban, malam takbiran yang membekas di ingatan, dan merawat kedekatan antar-sesama warga. (setia wirawan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *