Hampir Punah! BRIN-UGM Desak Penyelamatan Mangrove Langka Camptostemon philippinensis di Teluk Balikpapan
Jakarta, nusaetamnews.com : Tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berkolaborasi dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) mendesak adanya langkah konkret untuk melindungi populasi spesies mangrove super langka, Camptostemon philippinensis, yang ditemukan di kawasan Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur.
Bukan tanpa alasan, jenis mangrove ini telah masuk dalam kategori terancam punah (Endangered) berdasarkan Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN). Di Indonesia sendiri, tumbuhan yang tumbuh di pesisir Kelurahan Pantai Lango dan Pulau Kowangan, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) ini termasuk dalam jenis mangrove yang dilindungi ketat oleh pemerintah.
“Keberadaan C. philippinensis di Teluk Balikpapan menunjukkan bahwa kawasan ini memiliki nilai biodiversitas yang sangat penting dan memerlukan perhatian serius dalam upaya konservasi,” ujar Istiana Prihatini, Peneliti Pusat Riset Botani Terapan BRIN, dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (24/5).
Dihantui Ancaman Kepunahan Lokal
Saat ini, kondisi populasi C. philippinensis berada dalam status lampu kuning. Istiana membeberkan bahwa spesies ini menghadapi tekanan berat akibat berbagai aktivitas manusia di sekitar Teluk Balikpapan, mulai dari alih fungsi lahan mangrove, pencemaran lingkungan, hingga aksi pembalakan liar.
Celakanya, habitat spesies ini berada di area yang sangat sempit, terlokalisasi, dan posisinya terbilang dekat dengan permukiman penduduk.
“Habitat C. philippinensis sangat terbatas. Jika terjadi kerusakan habitat sedikit saja, risiko kepunahan lokal bagi spesies ini akan semakin besar,” tegas Istiana.
Jadi “Menu” Favorit Bekantan
Ada temuan menarik yang didapatkan tim peneliti selama melakukan observasi lapangan di Teluk Balikpapan. Spesies mangrove langka ini diduga kuat memiliki hubungan ekologis yang erat dengan bekantan (Nasalis larvatus), satwa endemik Kalimantan yang juga dilindungi.
Tim peneliti menemukan indikasi bekas gigitan primata berhidung panjang tersebut pada daun-daun C. philippinensis. Informasi dari nelayan lokal yang mendampingi tim juga membenarkan bahwa kelompok bekantan kerap terlihat beraktivitas di sekitar habitat mangrove langka tersebut.
Karakteristik Habitat & Rekomendasi Tim Peneliti
Di Teluk Balikpapan, C. philippinensis tumbuh subur di zona mangrove lapis kedua (bukan area yang langsung berhadapan dengan laut lepas). Karakteristik lahannya didominasi oleh tekstur tanah berpasir dan hanya tergenang air saat air laut mengalami pasang tinggi. Di zona ini, mereka tumbuh berdampingan dengan vegetasi mangrove lain seperti:
- Rhizophora apiculata dan Rhizophora mucronata (Bakau)
- Sonneratia alba (Pedada/Perepat)
- Avicennia alba (Api-api)
- Lumnitzera littorea dan Xylocarpus granatum (Nyiri)
Mengingat tingginya risiko kerusakan, tim peneliti BRIN dan UGM merekomendasikan sejumlah langkah penyelamatan darurat. Mulai dari memperketat perlindungan habitat alami, merestorasi kawasan mangrove yang telanjur rusak, melakukan penyimpanan material genetik, hingga mengembangkan konservasi ex-situ melalui metode perbanyakan tanaman agar spesies ini bisa diselamatkan dari ambang kepunahan. (ant/one)