Bahlil Desak KKKS Segera Serahkan PI untuk Kaltim
JAKARTA – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengirim sinyal kuat keberpihakan pemerintah pusat kepada daerah penghasil migas. Dalam pembukaan Konvensi dan Pameran Tahunan ke-50 Indonesian Petroleum Association (IPA) di Nusantara Hall ICE BSD Tangerang, Rabu (20/5/2026), Bahlil secara tegas memerintahkan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang belum menyerahkan participating interest (PI) kepada daerah agar segera merealisasikannya.
Instruksi itu disebut sebagai perintah langsung Presiden, sekaligus bentuk koreksi terhadap masih minimnya keterlibatan daerah dalam pengelolaan sektor migas nasional.
“Bagi KKKS yang sudah menjalankan usaha dengan baik, tapi belum menyerahkan PI kepada daerah, tolong segera diberikan,” tegas Bahlil di hadapan pelaku industri migas nasional dan internasional.
PI selama ini menjadi instrumen penting bagi daerah penghasil untuk memperoleh manfaat ekonomi langsung dari eksploitasi sumber daya alam di wilayahnya. Karena itu, penegasan Menteri ESDM dinilai menjadi angin segar bagi Kalimantan Timur yang selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu lumbung energi nasional.
Meski demikian, Bahlil mengingatkan agar proses pemberian PI tetap berjalan sesuai aturan dan tata kelola yang sehat. Ia menegaskan tidak ingin ada praktik penyimpangan yang justru menimbulkan persoalan hukum di kemudian hari.
Tak hanya bicara soal PI, Bahlil juga melontarkan kritik keras terhadap dominasi pengusaha luar daerah dalam proyek-proyek hulu migas. Ia meminta agar perusahaan-perusahaan besar, termasuk Eni dari Italia yang menemukan cadangan gas raksasa di Kaltim, mulai memberi ruang nyata kepada pengusaha lokal.
“Saya titip ke Eni dan SKK Migas, jangan kontraktor dikuasai orang Jakarta semua. Jadikan pengusaha daerah tuan di rumahnya sendiri,” tandasnya.
Namun Bahlil memberi catatan penting. Keberpihakan kepada pengusaha lokal tidak boleh mengorbankan profesionalisme dan standar keselamatan industri migas yang dikenal berisiko tinggi.
“Selama profesional, bukan pengusaha proposal saja,” sindirnya.
Ia menegaskan sektor migas membutuhkan kompetensi teknis tinggi dan disiplin keselamatan yang ketat.
“Bisnis ini sangat berbahaya. Salah sedikit pasang pipa, orang bisa mati,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Bahlil juga mengungkap potensi besar temuan migas baru Eni di Blok Ganal, lepas pantai Kaltim. Cadangan tersebut diperkirakan mencapai 5 hingga 7 TCF (triliun kaki kubik) gas serta 300 juta barel kondensat.
Cadangan raksasa itu berada sekitar 70 kilometer lepas pantai dengan kedalaman laut mencapai 2.000 meter, dan diproyeksikan menjadi salah satu penemuan strategis Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Kabar tersebut langsung disambut optimistis Gubernur Rudy Mas’ud yang hadir dalam forum internasional itu. Menurut Rudy, penegasan pemerintah pusat membuka peluang besar bagi pelaku usaha lokal Kaltim untuk naik kelas dalam industri oil and gas.
“Ini opportunity luar biasa bagi daerah. Pengusaha lokal harus diberi prioritas, tetapi tetap wajib memenuhi spesifikasi dan standardisasi industri oil and gas,” ujar Rudy.
Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dalam pengelolaan PI maupun kerja sama bisnis migas ke depan agar manfaat ekonomi benar-benar kembali ke daerah.
Forum IPA ke-50 itu turut dihadiri Hashim Djojohadikusumo, Joko Siswanto, Kathy Wu, para duta besar negara sahabat, serta pelaku industri migas global.
Pada kesempatan yang sama juga dilakukan penandatanganan delapan wilayah kerja migas baru di Indonesia, menandai agresivitas pemerintah dalam mendorong investasi energi nasional.