Subscribe

Kodim 0909/KTM ‘Hijaukan’ Sangatta: Tanam Ribuan Pohon Endemik demi Pulihkan Ekosistem Pasca-Tambang

2 minutes read

Sangata, nusaetamnews.com : Aksi nyata penyelamatan lingkungan kembali digelorakan di Kutai Timur. Kodim 0909/KTM baru saja melakukan penanaman massal 1.150 bibit pohon endemik Kalimantan di kawasan Desa Swarga Bara, poros Sangatta–Rantau Pulung, pada Senin (4/5/2026).

Langkah ini bukan sekadar seremoni hijau biasa, melainkan upaya serius untuk memulihkan ekosistem hutan yang terdampak aktivitas pertambangan di wilayah tersebut.

“Hari ini kami menanam sekitar 1.150 bibit, mulai dari jenis ulin, meranti, kapur, sengon, hingga berbagai pohon buah,” ungkap Dandim 0909/KTM, Letkol Arh Ragil Setyo Yulianto.

Misi Penyelamatan Pohon Langka & Rekor MURI

Gerakan ini merupakan bagian dari aksi serentak jajaran Kodam VI/Mulawarman. Secara total, ada 10.100 bibit ulin yang ditanam di berbagai titik untuk menjaga kelestarian pohon kebanggaan Kalimantan tersebut dari kepunahan.

Tak hanya soal pohon, aksi ini juga dibarengi dengan komitmen menjaga keanekaragaman hayati lainnya melalui:

  • Pelepasan 4.100 ekor satwa.
  • Penebaran 20.000 ekor bibit ikan.

Menariknya, aksi “keroyokan” ini juga diproyeksikan untuk memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) dalam kategori penanaman pohon serentak di wilayah Kodam VI/Mulawarman.

“Fokus utama kami adalah menjaga kelestarian pohon endemik yang mulai langka, terutama ulin. Kami ingin meningkatkan kesadaran publik bahwa menjaga hutan adalah tugas kita bersama,” tambah Letkol Ragil.

Support Pemkab: Ubah Lahan Bekas Tambang Jadi Produktif

Wakil Bupati Kutai Timur, Mahyunadi, memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif TNI ini. Menurutnya, pemulihan lahan pasca-tambang memang memerlukan kolaborasi strategis agar fungsi lahan bisa kembali normal.

“Ini langkah yang sangat bagus untuk pemulihan lingkungan kita. Penanaman ini strategis untuk mengembalikan fungsi lahan sekaligus memberi manfaat ekologis dan ekonomis jangka panjang bagi warga,” ujar Mahyunadi.

Melalui gerakan Green Movement ini, diharapkan lahan-lahan yang dulunya gersang atau kurang produktif bisa kembali “bernafas”, memberikan warisan alam yang lebih sehat untuk generasi masa depan Kutai Timur. (ant/one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *