Subscribe

Cuan dari Langit! 77 Kampung di Berau Terima Dana Karbon Bank Dunia Rp349 Juta Per Tahun

2 minutes read

Tanjung Redeb, nusaetamnews.com : Siapa bilang menjaga hutan cuma soal pengabdian? Di Kabupaten Berau, kelestarian alam justru jadi mesin ekonomi baru. Sebanyak 77 kampung di “Bumi Batiwakkal” sukses mencairkan dana insentif karbon dari Bank Dunia dengan nilai rata-rata Rp349 juta per kampung tiap tahunnya.

Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, menegaskan bahwa konsep pengelolaan hutan karbon bukan lagi sekadar wacana hijau di atas kertas, melainkan aksi nyata yang menggabungkan fungsi ekologi dengan profit ekonomi.

“Fokus kita sekarang adalah percepatan perhutanan sosial. Masyarakat tidak hanya menjaga hutan, tapi juga meningkatkan kesejahteraan dari sana tanpa merusak ekosistem,” ujar Sri Juniarsih di Tanjung Redeb, Rabu (29/4/2026).

Menjaga “Penyerap Karbon” Jadi Sumber Penghasilan

Melalui skema ini, hutan berfungsi sebagai pembersih udara alami. Pohon-pohon di Berau bekerja melakukan “penangkapan karbon” dari atmosfer, dan jasa lingkungan inilah yang dibayar oleh lembaga internasional. Dana yang masuk ke rekening kampung tersebut dialokasikan untuk:

  • Pemeliharaan Hutan: Menjaga area dari perambahan dan kebakaran.
  • Pengembangan Ekonomi Lokal: Mengelola potensi non-kayu tanpa tebang pohon.
  • Edukasi & Pendampingan: Memastikan warga punya skill mengelola hutan secara berkelanjutan.

Ambisi 2026–2030: Sinergi di Tengah “Status” Hutan

Bupati Sri Juniarsih mengakui tantangan di lapangan cukup unik, mengingat sekitar 68 persen wilayah daratan Berau menyandang status kawasan hutan di bawah kewenangan pusat dan provinsi.

Oleh karena itu, dalam pertemuan Pokja Percepatan Perhutanan Sosial 2026, ia mendorong penyusunan dokumen perencanaan terpadu untuk periode lima tahun ke depan (2026–2030).

“Kita perlu memperkuat sinergi. Identifikasi kendala di lapangan dan cari solusi bersama. Program ini adalah bukti negara hadir memberikan ruang bagi rakyat untuk mengelola ‘harta karun’ hijaunya sendiri,” tegasnya.

Penyeimbang Ekologi dan Ekonomi

Bagi Pemkab Berau, keberhasilan program hutan karbon ini adalah kunci pembangunan masa depan. Dengan menjaga hutan tetap tegak, masyarakat lokal tidak hanya berperan dalam menyeimbangkan iklim global, tetapi juga mendapatkan nilai tambah ekonomi yang konkret.

“Jaga hutannya, berdayakan orangnya, dan bangun masa depan Berau yang ramah lingkungan namun tetap produktif,” tutup Sri Juniarsih. (ant/one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *