Subscribe

Menjadi Tuan Rumah di Rumah Sendiri: Menakar Porsi Warga Kaltim di Jantung Nusantara

5 minutes read

DERU mesin ekskavator dan dentingan baja beradu mengisi udara Sepaku, Penajam Paser Utara. Di balik kemegahan Istana Garuda yang perlahan mulai kokoh berdiri, sebuah pertanyaan besar kerap berembus di antara debu-debu pembangunan: di mana posisi warga lokal Kalimantan Timur di tengah megaproyek ini? Apakah mereka sekadar menjadi penonton di tanah kelahiran sendiri, atau justru ikut mengemudikan arah masa depan ibu kota baru?

Data terbaru memotret sebuah angka yang menarik sekaligus menantang. Kepala Otorita IKN (OIKN), Basuki Hadimuljono, membeberkan bahwa dari sekitar 1.100 pegawai yang kini menggerakkan roda birokrasi di OIKN, sekitar 30 persen atau setara 330 orang adalah putra-putri asli Kalimantan Timur.

“Mereka mayoritas generasi muda yang menjadi bagian penting dari masa depan Nusantara,” ujar Basuki dalam sebuah forum resmi di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP).

          PORSI WARGA LOKAL DI IKN

       Struktur Birokrasi (Pegawai OIKN)

       [██████░░░░░░░░░░░░░░] 30% Warga Kaltim (330 dari 1.100)

       Sektor Konstruksi & Lapangan

       [██████░░░░░░░░░░░░░░] 30% Tenaga Kerja Lokal

Angka 30 persen ini seolah menjadi “angka keramat”. Tidak hanya di meja kantoran birokrasi, serapan tenaga kerja lokal di sektor konstruksi kasar dan lapangan pun berada di kisaran persentase yang sama. Dari belasan ribu pekerja yang memeras keringat mempercepat pembangunan fisik IKN, baru sepertiganya yang berasal dari bumi etam.

Dari Pengambil Kebijakan hingga Penjaga Ketertiban

Jika membedah angka 30 persen di tubuh birokrasi OIKN, keterlibatan warga lokal rupanya tidak menumpuk di satu sudut. Mereka tersebar dari puncak piramida jabatan hingga garda terdepan pertahanan lapangan.

Di level top management atau pengambil kebijakan tertinggi (setingkat Eselon I), suara daerah dijamin lewat keterwakilan tokoh lokal. Melalui regulasi khusus, figur-figur strategis asal Kaltim ditempatkan di posisi krusial. Sebut saja Dr. Myrna Asnawati Safitri yang dipercaya menjabat sebagai Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam untuk mengawal konsep forest city. Ada pula Drs. Alimuddin, M.Si, mantan Kepala Dinas di Penajam Paser Utara, yang kini menakhodai Kedeputian Bidang Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan Masyarakat. Di bawah mereka, beberapa posisi Direktur (Eselon II) juga diisi oleh akademisi dari universitas lokal seperti Universitas Mulawarman.

Bergeser ke manajemen menengah, gerbong Aparatur Sipil Negara (ASN) dari daerah penyangga berdatangan mengisi posisi Pejabat Administrator dan Pengawas (Eselon III dan IV). Kabupaten Penajam Paser Utara telah memutasi puluhan pegawainya untuk menjadi Kepala Bagian atau Kepala Subdirektorat di OIKN. Kota Bontang dan wilayah lain pun turut menyumbangkan ASN terbaiknya untuk bekerja sebagai Analis Kebijakan yang mengurusi sinkronisasi regulasi daerah, serta tim Pranata Humas dan Protokol.

Sementara itu, bagi generasi muda fresh graduate asal Samarinda dan Balikpapan, rekrutmen terbuka OIKN menjadi pintu masuk sebagai staf administrasi, keuangan, hingga tenaga teknis lapangan seperti Operator Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk pemetaan lahan.

Tidak ketinggalan, pemuda dari wilayah ring 1—seperti Sepaku, Samboja, dan Muara Jawa—banyak yang diserap menjadi pegawai non-ASN. Setelah melewati pelatihan intensif, mereka kini bertugas di sektor keamanan sebagai security profesional penunggu aset vital negara, serta personel Satpol PP Khusus IKN yang mengawasi ketertiban tata ruang dari menjamurnya bangunan liar.

Urusan Gaji hingga Sertifikasi

Namun, jika kita turun lebih dekat ke tanah Sepaku, realitasnya tak sesederhana deretan angka di atas kertas. Angka 30 persen pekerja lokal itu menyisakan 70 persen ruang yang masih diisi oleh tenaga kerja luar daerah. Mengapa serapan tenaga lokal belum bisa melompat lebih tinggi? Jawabannya berlapis, mulai dari perkara isi dompet hingga sertifikasi keahlian.

Bagi sebagian pemuda lokal seperti Ihwan, seorang warga Sepaku, tawaran menjadi pekerja konstruksi di IKN tidak selalu terlihat seksi. Urusan upah dan beratnya ritme kerja proyek berskala internasional membuat sebagian pemuda berpikir dua kali. Ihwan lebih memilih mengadu nasib sebagai pedagang kaki lima di sekitar area proyek. Baginya, perputaran uang dari menjamurnya pendatang justru lebih menjanjikan ketimbang menjadi kuli di proyek fisik.

Di sisi lain, standar tinggi yang diterapkan di proyek IKN menuntut adanya sertifikasi kompetensi formal. Ini menjadi batu sandungan bagi sebagian warga lokal yang hanya bermodalkan pengalaman otodidak. Di sinilah letak jurang pemisahnya: posisi middle management seperti manajer proyek dan pengawas teknis konstruksi masih didominasi profesional luar daerah karena tingginya standar sertifikasi internasional yang diminta kementerian terkait.

Menyadari tantangan ini, Otorita IKN bersama instansi terkait terus menggenjot program pelatihan khusus, mulai dari tailor-made training untuk pengamanan hingga sertifikasi konstruksi gratis bagi warga lokal.

“Tugas kita bersama adalah memastikan masyarakat di seluruh wilayah delineasi IKN terlibat. Kami secara konsisten merekrut dan melatih agar anak-anak muda kita memiliki daya tawar tinggi,” tegas Deputi Alimuddin dalam suatu kesempatan.

Harapan yang Digantungkan

Jembatan kesempatan kini sedang dibangun. Komitmen 30 persen pegawai OIKN asal Kaltim setidaknya memberikan sinyal positif bahwa suara daerah tidak dikesampingkan dalam ruang pengambilan keputusan. Mereka yang duduk di sana bukan sekadar pajangan, melainkan penopang masa depan Nusantara yang tahu betul bagaimana karakter geografis dan budaya tanah kelahirannya.

Namun, pekerjaan rumah belum usai. Tantangan terbesar ke depan adalah bagaimana menaikkan kelas warga lokal secara kuantitas dan kualitas, dari yang semula mayoritas mengisi pos pekerja penunjang, bergeser menjadi konseptor ulung di masa depan.

IKN adalah proyek jangka panjang. Warga Kalimantan Timur tentu tidak ingin hanya diingat sebagai penyedia lahan atau penonton di pinggir jalan tol, melainkan sebagai sang arsitek yang ikut mengukir sejarah peradaban baru Indonesia. (one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *